My Home

Tampilkan postingan dengan label budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label budaya. Tampilkan semua postingan

Jumat, Maret 11, 2011

[Part 1] PERAN DAN POSISI UMAT ISLAM DALAM BUDAYA GLOBAL

Secara garis besar ada tiga polarisasi Umat islam dalam menyikapai budaya global dan modernisasi sekarang ini:

1. Menentang dan Apatis
Termasuk dalam kelompok ini adalah mereka yang merasa apatis, pesimis dan tidak percaya dengan modernisasi dan globalisasi. Reaksi ektrimnya dalah menentang segala sesuatu yang berbau modern dan global, termasuk reluctant terhadap kemajuan Iptek.

2. Kebablasan
Yaitu golongan masyarakat yang Utopistik. Sangat memuja modernisasi, memiliki optimisme yang berlebihan terhadap Iptek sehingga bersikap cendrung sekuler dan menjaga jarak terhadap islam itu sendiri.

3. Moderat
Yaitu masyarakat yang mampu melihat persoalan “global” secara utuh dan komprehensif. Sangat terbuka dengan kemajuan Iptek, tetapi tetap berpegang teguh terhadap nilai-nilai islam.

Sikap ketiga merupakan sikap yang paling dianjurkan dalam islam, karena setiap pribadi telah di noibatkan Allah menjadi Pengatur (Khalifah) minimal bagi dirinya sendiri, untuk kemashlahatan dunia sebagaimana tertulis didalam Al-qur’an surat Shaad ayat 26:

“…Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat darin jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan..”

Sebagai decision maker (pengatur), kita dilarang untuk mengikuti hawa nafsu semata, tapi juga jangan terlalu apatis.

“..Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian..” (Al Furqaan ayat 67).

1. Peran dan Posisi Umat Islam dalam Budaya Global yang Positif

a. Dalam bidang teknologi

Teknologi Sebagai Media Dakwah Masa Kini

Sekarang ini kita sudah memasuki abad ke-21, di mana globalisasi akan mencapai puncaknya pada saat ini, dan menuntut kita agar meningkatkan sumber daya manusia dalam semua aspeknya, maka secara detail umat Islam tidak boleh ketinggalan dengan perkembangan yang terjadi di masa modern ini. Kita menyadari bahwa abad sekarang adalah abad teknologi dan informasi, Al-Qur’an dan sunnah mengajarkan kepada setiap muslim untuk menguasai ilmu termasuk dalam mempelajari teknologi agar kaum mereka mampu berdiri di depan dalam perlombaan ilmu teknologi. Misalnya televisi merupakan media informasi sekaligus media hiburan yang dapat kita jumpai di mana-mana sehingga dakwah multimedia merupakan terobosan baru untuk dapat melakukan aktivitas dakwah. Televisi merupakan media audiovisual yang juga sering disebut media pandang dengar. Ustad Arifin Ilham merupakan salah satu dari sekian banyak muballigh yang mampu menerobos dunia perfilman dalam menyampaikan misi dakwahnya. Alangkah indahnya jika setiap film-film yang ditayangkan itu membawa nilai dakwah. Begitu juga membuka acara dialog interaktif agama Islam di media elektronik merupakan bentuk dakwah yang cukup memiliki nilai keterbukaaan, sebagaimana setiap acara yang dilakukan oleh para muballigh kita di setiap acara buka puasa atau acara santap sahur pada setiap bulan Ramadhan.

Proses dakwah di media celluler juga merupakan media informasi yang cukup canggih dan trend di zaman sekarang. Hal ini dapat dilihat dari begitu banyaknya pemakaian celluler, mulai dari pengusaha sampai yang bukan pengusaha, bahkan seperti yang kita ketahui para pekerja yang dilihat kekurangan dalam taraf hidupnya, pelajar yang belum memiliki penghasilan dan pengangguran pun telah dapat menggunakan celluler, bahkan rata-rata telah memilikinya. Maka alangkah baik celluler dimanfaatkan sebagai media dakwah, yaitu dengan cara memanfaatkan fasilitas Multimmedia Messaging Service (MMS) sebagai media untuk mengirim pesan-pesan normatif.

Dengan ber-SMS kita dapat berdakwah dengan biaya yang murah. Begitu juga dengan pelatihan Leadership Training mulai menggunakan LCD, OHP, dan beberapa alat canggih lainnya, dan itu sangat besar manfaatnya dalam kehidupan kita. Namun, kesemuanya itu akan terjadi jika umat Islam beriman dan bertaqwa dengan cara menegakan hukum-hukum Allah. Sebaliknya, keterpurukan dan penderitaan akan muncul jika kita mempertuhankan benda-benda tersebut.

Al-Qur’an sebagai pedoman hidup, dalam hal ini tidak pernah mencela dan menghambat umatnya untuk mempertinggi budaya dan kemampuan mereka. Hanya saja dalam mengejar kebahagiaan dunia jangan sampai melalaikan kehidupan akhirat dan mengingatkan kita agar tidak menjadi hamba materi sehingga mengakibatkan umat Islam terperosok terbawa dengan segala tipu daya barat yang mencengangkan. Kita telah mengetahui perkembangan teknologi dari negara barat dan itu merupakan peluang yang tidak dapat kita manfatkan untuk menyiarkan Islam secara modern atau memanfaatkan informasi teknologi yang berkembang pesat saat ini adalah hal yang wajar-wajar saja.

Abdus Salam, seorang fisikawan muslim yang meraih hadiah nobel pada tahun 1979 mengemukakan tafakur al bereflaksi, berpikir tentang menemukan hukum-hukum alam (sains); taskhir adalah memeperoleh penguasaan atas alam (teknologi), jelaslah bahwa al-Qur’an dengan penatah yang berulang kali, mengandung sunah untuk bertafakur dan bertaskhir atau (mengejar sains dan teknologi). Inilah yang menjadi peluang terbesar umat Islam, dengan berkembang pesatnya teknologi masa kini maka akan semakin besar pula peluang dakwah kita untuk umat. Mengapa? Karena, dengan begitu akan terlihat keagungan Allah yang Maha Dashyat dan semakin tinggi pula tingkat keimanan kita di sisi-Nya. Bagaimana kita bisa membangun peradaban Islam pada masa kini, apabila kelengahan dan kemalasan masih menyelimuti kaum muslimin, begitu banyak contoh teladan yang ada dalam diri Rasulullah, tak heran ketika itu pernah dikatakan Aisyah ra. bahwa Rasulullah adalah al-Qur’an yang berjalan karena setiap gerak gerik beliau mencerminkan al-Qur’an, sehingga pada masa itu beliau berhasil membangun peradaban jahiliyah menjadi peradaban Islam yang luas.

Jadi dapat disimpulkan dengan berkembangnya teknologi yang merupakan salah satu dari budaya global yang positif, penyebaran agama islam menjadi lebih mudah. Peran dan posisi kita sebagai umat islam adalah sebagai pengguna teknologi dengan tujuan untuk kepentingan agama .

b. Dalam bidang ilmu pengetahuan

Islam sangat menekankan pentingnya ilmu pendidikan bahkan wahyu yang pertama kali diturunkan langsung memerintahkan umat Islam untuk Iqra (membaca). Hanya dengan cara itu manusia secara bertahap akan menjadi masyarakat yang beradab dan berbudaya.

Pada masa ini diletakkan dasar-dasar berbagai cabang ilmu pengetahuan, dari logika sampai gramatika, dari astronomi sampai fisika. Umat muslimin melanjutkan tradisi ilmiah peradaban Helenisme, dengan perkembangan-perkembangan yang spektakuler menurut kekuatan zamannya. Sebagai contoh, tokoh ilmuan muslim terkemuka, Harun Yahya telah menulis buku - buku ilmu pengetahuan yang dikaitkan dengan al-Quran dan hadis. Hasil karyanya tersebut telah diterjemahkan ke berbagai bahasa di dunia. Ini merupakan salah satu bukti bahwa umat islam juga memberikan peranan terhadap perkembangan ilmu pengetahuan.

Peran dan posisi umat islam dalam ilmu pengetahuan ini adalah sebagai seorang muslim yang selalu mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan.

c. Dalam bidang ekonomi

Dalam budaya global ini dalam bidang ekonomi ditandai dengan perdagangan menuju terbentuknya pasar bebas, baik dalam kawasan ASEAN, Asia Pasifik bahkan akan meliputi seluruh dunia. Terbukanya pasar internasional, meningkatkan kesempatan kerja dan meningkatkan devisa negara. Dengan adanya hal tersebut akan meningkatkan kehidupan ekonomi bangsa yang menunjang kehidupan nasional bangsa.

Peran dan posisi umat islam dalam budaya global ini adalah sebagai seorang warga negara yang ikut juga mengamalkan pasaran dan perdagangan bebas tetapi amalan itu berdasarkan nilai-nilai kerohanian dan moral seperti keadilan dan kemakmuran bersama.

d. Dalam bidang bahasa

Representasi budaya global dunia dewasa ini menunjukkan adanya hubungan yang kuat antara peran bahasa-bahasa dunia dengan proses munculnya suatu budaya menjadi budaya global. Uraian-uraian yang disampaikan oleh Alaistar Pennycook dalam bukunya “The Cultural Politics of English as an International Language” mengindikasikan bahwa bahasa, dalam hal ini Bahasa Inggris, telah menjadi alat yang sangat ampuh untuk menyebarkan budaya penutur bahasa tersebut ke seluruh dunia. Itulah sebabnya ketika kita telusuri ke belakang kita akan menemukan bahwa hampir seluruh budaya populer yang sifatnya mendunia pada hari ini berasal dari negara-negara yang penduduknya berbahasa Inggris, terutama Amerika Serikat.

Tidak dapat dipungkiri bahwa peran bahasa Inggris sebagai bahasa internasional telah tak tersaingi oleh bahasa-bahasa dunia lainnya dalam rentang waktu yang cukup lama. Fenomena seperti ini bahkan tetap berlangsung ketika dunia berada dalam perang dingin, dimana sebagian negara di dunia terpolarisasi dalam blok barat yang dimotori oleh Amerika Serikat dan blok timur yang dimotori oleh Uni Soviet. Kenyataan bahwa pada waktu itu Uni Soviet merupakan salah satu negara super power dunia ternyata tidak mampu menempatkan peran bahasa Rusia sejajar dengan bahasa Inggris dalam percaturan dunia internasional. Sejak zaman Presiden AS John F. Kennedy sampai Ronald Reagen yang mengakhiri perang dingin bersama Michael Gorbachev dunia lebih terekspos dengan budaya populer asal Amerika daripada budaya populer asal Uni Soviet yang hampir sama sekali tak terdengar gaungnya pada waktu itu. Dengan demikian kita dapat berargumentasi bahwa status sebuah negara sebagai negara super power dunia plus kemapanan tekhnologi atau media jurnalistik/komunikasinya tanpa keunggulan dominasi bahasa tidaklah mencukupi untuk mengantarkan budaya ataupun gaya hidup yang dimiliki negara tersebut menjadi budaya atau gaya hidup global.

Fakta bahwa Amerika adalah sebuah negara super power disertai dengan keberhasilannya mengelola sumber daya yang dimilkinya secara relatif efektif menjadi daya tarik yang kuat bagi banyak orang, utamanya kaum muda, di berbagai negara di dunia untuk mengidentifikasikan dirinya baik secara linguistik dan budaya atau sekedar budaya saja dengan Amerika.

Proses pengidentifikasian diri ini pada umumnya cenderung berlangsung secara tidak sadar dimana tindakan pengidentifikasian diri tersebut diambil lebih karena tekanan lingkungan yang secara terus menerus mengekspos orang dengan budaya hidup yang identik dengan Amerika. Teman sekolah/kuliah, rekan sekantor, tetangga, tokoh, artis, dan terlebih lagi media elektronik semuanya memberikan tekanan psikologis yang kuat untuk mengikuti budaya hidup global ini. Walaupun sebagian besar dari orang yang mengadopsi budaya hidup global ini sangat mungkin tidak memahami Bahasa Inggris, lapisan pertama dari orang-orang ini, terutama dari kalangan media massa dan bisnis lokal (di luar Amerika), adalah orang-orang yang secara linguisitik dan budaya memahami dengan baik fenomena budaya hidup global ini.

Disinilah kita melihat peran Bahasa Inggris sebagai bahasa internasional menjadi elemen penting yang memperkokoh keberadaan Amerika sebagai sumber rujukan budaya global dunia.

Peran dan posisi umat islam adalah sebagai pengguna bahasa inggris tersebut dan memanfaatkannya untuk mengikuti berbagai perkembangan IPTEK ataupun aspek –aspek lainnya. Umat islam dapat berkomunikasi dengan sesama muslim di negara lain dengan memanfaatkan bahasa inggris ini. Oleh karena itu, sebagai umat islam harus mempelajari bahasa inggris, karena bahasa Inggris merupakan bahasa global, yang digunakan di berbagai Negara. Sehingga penyebaran Islam ke Negara-negara lain melalui dakwah dapat dilakukan.

e. Dalam bidang politik

Dilihat dari globalisasi politik, pemerintahan dijalankan secara terbuka dan demokratis. Pengutamaan nilai-nilai rasionalitas, kebebasan, humanisme universal, kolaborasi yang dibawa globalisasi, tak dapat dihindari, dan menyebabkan semakin kuatnya filosofi globalisme. Sebuah pandangan hidup yang mengajarkan prinsip-prinsip kesamaan, kebersamaan, dan kebebasan sebagai warga kampung sejagat.

Kesadaran kebersamaan global yang terjadi di seluruh penjuru dunia ini, secara politis, pada gilirannya juga mengakibatkan munculnya gagasan-gagasan transnasional yang justru melemahkan posisi dan peranan suatu negara bangsa. Masyarakat dunia de facto mulai mempertanyakan "Sejauhmana kontribusi peran negara bangsa bagi warganya?", "Sejauhmana relevansi nasionalisme (rasa kebangsaan) bagi sebuah negara?". Dan, ternyata, masyarakat sebaliknya cenderung tunduk pada otoritas pasar global yang tak kenal batas negara dan otonomi lokal. Perkembangan kesadaran politik global seperti ini, sudah barang tentu, di satu sisi memiliki nilai positif karena memungkinkan persoalan yang dihadapi sebuah negara dipecahkan bersama secara lintas bangsa. Namun di pihak lain, kondisi politis seperti ini dapat merupakan ancaman bagi lunturnya rasa kebangsaan (nasionalisme) warga negaranya.

Peran dan posisi umat islam dalam hal ini adalah sebagai warga Negara yang tetap memiliki rasa nasionalisme yang tinggi, walaupun berada pada kondisi politik global yang tak kenal batas Negara seperti sekarang ini.

f. Gaya Hidup Mandiri

Kemandirian berarti kita mampu hidup tanpa bergantung mutlak kepada sesuatu yang lain. Untuk itu diperlukan kemampuan untuk mengenali kelebihan dan kekurangan diri sendiri, serta berstrategi dengan kelebihan dan kekurangan tersebut untuk mencapai tujuan. Dengan gaya hidup mandiri, budaya konsumerisme tidak lagi memenjarakan manusia. Manusia akan bebas dan merdeka untuk menentukan pilihannya secara bertanggungjawab, serta menimbulkan inovasi-inovasi yang kreatif untuk menunjang kemandirian tersebut.

Peran dan posisi umat islam adalah sebagai manusia yang menganut gaya hidup mandiri, karena dengan kemandirian tersebut kita mampu hidup tanpa bergantung mutlak pada seuatu yang lain, kecuali Allah.

source :Makalah SPAI Kel 8 "Peran dan Posisi Umat Islam dalam Budaya Global"

PERKEMBANGAN BUDAYA GLOBAL

Perubahan yang begitu cepat melanda segala aspek kehidupan, percepatan transformasi budaya global ke berbagai negara diakibatkan karena :

1. Perkembangan teknologi komunikasi yang dapat mentransfer budaya global melalui tayangan media elektronika maupun media cetak.
2. Perkembangan teknologi transportasi yang dapat membawa barang-barang dari suatu benua ke benua lain, dari suatu negara ke negara lain.
3. Kemauan masyarakat global untuk menyebarluaskan budaya global ke berbagai benua maupun negara.

Banyak sekali budaya yang mengalami perkembangan secara global dan dampaknya telah banyak dirasakan terutama pada masyarakat dunia termasuk Indonesia. Budaya yang mengalami perkembangan antara lain:

1. Fashion
a. Perkembangan fashion di dunia
Dunia fashion adalah dunia yang tidak pernah surut pesonanya dalam industri bisnis dan juga selalu menyajikan keindahan bagi penikmatnya. Hal ini dapat dibuktikan dari banyaknya artis-artis Hollywood yang berlomba melebarkan karirnya sebagai perancang busana, seperti Sarah Jessica Parker dengan Bitten sampai dengan snow queen dari London yaitu Victoria Beckham lewat label dVb-nya, walaupun untuk kualitas dan inovasi karya merek masih terlalu jauh untuk disejajarkan dengan para designer legendaris seperti Carolina Herera, Louis Vuitton,Versace dan sebagainya.
Awal dunia fashion dimulai tahun 1920. Tahun ini merupakan awal kebangkitan wanita mencapai kebebasan dan kemerdekaannya. Pada dekade sebelumnya, baju-baju ala Cinderella dengan rok super megar dengan pinggang ekstra ketat, menyiksa kaum wanita, karena itulah mulai tahun '20an baju tersebut ditinggalkan. Tahun 1920 merupakan abad baru ketika dunia fashion terlahir kembali dengan pandangan yang berbeda. Inovasi terbaru muncul dari desainer dunia, seperti Coco Chanel yang menyuguhkan potongan, warna, serta gaya yang mementingkan wanita. Dari sinilah dunia fashion mulai berkibar.

Memasuki tahun 1930an, perkembangan fashion sedikit agak lambat hingga akhirnya memasuki perang dunia kedua (1940-1946). Dari yang tadinya hanya bersifat fungsional, sebuah pakaian juga punya sisi estetik atau sisi 'cantik'. Lalu dunia di luar fashion pun punya pengaruh hebat, terutama dunia film di awal tahun '50an hingga '60an. Beberapa bintang film menjadi panutan di dunia fashion bahkan menjadi icon, seperti Marlene Dietrich dengan baju androginy-nya. di era ini juga, desainer dunia banyak melakukan inovasi. Dari London ada Mary Quant dengan rok mininya dan Barbara Hulanicki dengan gaya street wear remaja London. dari Amerika ada James Galanos dengan baju fitted dan Rudi Gernreich dengan baju-baju unisex. di Paris dikenal Yves Saint Laurent dengan gaya tailoring buat cewek, Pierre Cardin dengan baju space-nya dan Emmanuel Ungaro dengan fashion couture-nya. Berkembangnya zaman menyebabkan dunia fashion terus berkembang dan tidak menutup kemungkinan fashion dulu dapat kita rasakan kembali.

b. Perkembangan Fashion di Indonesia
Di Indonesia memasuki era 60-70-an dirasa sangat kental dengan dimensi politis di berbagai aspek kehidupan masyarakat. Dunia fashion juga kena imbasnya. Akhir tahun 1960-an terasa sekali arus pengaruh Barat yang membanjir sesudah era Presiden Soekarno. Di saat itulah, industri fashion mulai tumbuh. Pada era Soekarno, segala sesuatu yang berbau Barat, hingga ke musiknya pun, dilarang untuk ditiru maupun didengar.

Kini trend fashion di Indonesia berkembang sangat pesat walaupun masih terpengaruh oleh fashion internasional. Kini banyak kita temukan event pagelaran busana di hotel-hotel ternama dan dalam berbagai kesempatan. Namun karya yang ditampilkan tidak selalu dari luar, datang juga dari desainer lokal papan atas dengan karya yang tidak kalah dengan desainer asing.

2. Kuliner
Saat ini untuk mencicipi makanan dari negara lain tidak perlu lagi ke negara tersebut. Seiring dengan perkembangan iptek hal tersebut menjadi mungkin. Pertumbuhan industri kuliner dan hotel di Indonesia belakangan ini makin menggembirakan. Buktinya, satu per satu investor dari negara maju berdatangan menanamkan investasinya di sektor industri perhotelan dan kuliner Indonesia.

Di negara kita sendiri perkembangan kuliner terjadi secara pesat. Bahkan waralaba dan kemitraan kuliner yang mengangkat nama negara lain pun marak di tanah air. Sebagai contoh tawaran waralaba yang sedang gencar ditawarkan adalah kemitraan gerai Domba Bakar Afrika Casablanca. Domba bakar merupakan masakan ala negeri Mali, di benua Afrika. Waralaba lain yang telah menjadi bagian budaya global antara lain:

a. Kentucky Fried Chicken


KFC (Kentucky Fried Chicken) adalah suatu merek dagang waralaba dari Yum! Brands, Inc., yang bermarkas di Louisville, Kentucky, Amerika Serikat. Didirikan oleh Col. Harland Sanders, KFC dikenal terutama karena ayam gorengnya, yang biasa disajikan dalam keranjang.

Col. Sanders mulai menjual ayam gorengnya di pom bensin miliknya pada tahun 1939 di Corbin, Kentucky yang selanjutnya pindah ke sebuah motel. Ia menutup usahanya pada akhir 1940-an sewaktu jalan tol Interstate melalui kotanya. Pada awal 1950-an, ia mulai berkeliling Amerika Serikat dan bertemu dengan Pete Harman di Salt Lake City, Utah, dan pada tahun 1952 bersama-sama mendirikan restoran Kentucky Fried Chicken yang pertama di dunia (restoran pertamanya tidak menggunakan nama tersebut). Sanders menjual seluruh waralaba KFC pada tahun 1964 senilai 2 juta USD, yang sejak itu telah dijual kembali sebanyak tiga kali. Pemilik terakhir adalah PepsiCo, yang menggabungkannya ke dalam divisi perusahaan Tricon Global Restaurants yang sekarang dikenal sebagai Yum! Brands, Inc. Pada tahun 1997, Tricon terpisah dari PepsiCo.

Di Indonesia, pemegang hak waralaba tunggal KFC adalah PT. Fastfood Indonesia, Tbk yang didirikan oleh Kelompok Usaha Gelael pada tahun 1978, dan terdaftar sebagai perusahaan publik sejak tahun 1994. Restoran KFC pertama di Indonesia dibuka pada bulan Oktober 1979 di Jalan Melawai, Jakarta. Hingga saat ini, franchise KFC telah memiliki lebih dari 340 outlet yang tersebar di seluruh pelosok tanah air.

b. Kuliner Indonesia

Meski belum sepesat perkembangan KFC, kuliner Indonesia saat ini pun mulai merambah ke luar negeri terutama negara-negara tetangga misalnya Malaysia. Waralaba kuliner yang ekspansi ke Malaysia antara lain, Sari Ratu yang sudah punya enam cabang, Ayam Penyet dua cabang, Wong Solo, Baso Afung, dan Natrabu. Selain itu beberapa perusahaan waralaba Indonesia sedang jajaki ekspansi ke Malaysia ”Bakso Malang Cak Man telah menerima permintaan untuk membuka cabang di Malaysia. Es Teler 77 dalam waktu dekat juga akan buka satu cabang di Malaysia, sedangkan Kelenger Berger sedang penjajakan buka di Malaysia

3. Situs Jejaring Sosial
a. Facebook
Facebook diluncurkan pertama kali pada tanggal 4 Februari 2004 oleh Mark Zuckerberg (23), seorang programer komputer yang handal sebagai media untuk saling mengenal bagi para mahasiswa Harvard. Tak lama berselang jaringan tersebut berkembang dengan cepat ke sekolah lain dan dalam kurun waktu empat bulan, 30 kampus telah bergabung dalam jaringan tersebut.

Situs yang beralamat di thefacebook.com tersebut kemudian berubah nama menjadi facebook.com pada bulan Agustus 2005. Nama facebook.com tersebut dibeli dengan harga $200.000 ( Dua miliar rupiah, jika dolar seharga Rp. 10.000,-) dari Aboutface Corporatio. Sejak 11 September 1998, semua orang yang memiliki e-mail dapat mendaftar di facebook. Pengguna dapat memilih untuk bergabung dengan satu atau lebih jaringan yang tersedia, seperti berdasarkan sekolah, tempat kerja, atau wilayah geografis.
Hingga Juli 2007, facebook memiliki jumlah pengguna terdaftar paling besar di antara situs-situs yang berfokus pada sekolah dengan lebih dari 34 juta anggota aktif yang dimilikinya dari seluruh dunia. Dari September 2006 hingga September 2007, peringkatnya naik dari posisi ke-60 ke posisi ke-7 situs paling banyak dikunjungi, dan merupakan situs nomor satu untuk foto di Amerika Serikat, mengungguli situs publik lain seperti Flickr, dengan 8,5 juta foto dimuat setiap harinya.

Data Statistik
• Pertumbuhan pengguna Facebook di Indonesia tahun 2008 adalah 645% menjadi 831.000 pengguna di akhir tahun, menjadi negara dengan tingkat pertumbuhan pengguna tertinggi di Asia.
• September 2009 pengguna Facebook di Indonesia telah mencapai 8.520.160 dengan pengguna baru 8.23juta orang bergabung dalam 12 bulan terakhir.
• Oktober 2009 pengguna Facebook di Indonesia mencapai 9.713.580 pengguna, negara ketiga tercepat tumbuhnya di Asia setelah Filipina dan Taiwan dalam sebulan terakhir .
• November 2009 pengguna Facebook di Indonesia tumbuh pesat kembali dalam 1 bulan terakhir menjadi 12.189.100 pengguna dan tumbuh paling pesat se Asia dalam 1 bulan terakhir.
• Desember 2009 pengguna Facebook di Indonesia masih paling tinggi mencapai 13.870.120 pengguna, tertinggi di Asia baik dalam jumlah maupun tingkat pertumbuhan .
• Februari 2010 pengguna Facebook di Indonesia mencapai 17.301.760 pengguna.
• Maret 2010 pengguna Facebook di Indonesia mencapai 19.094.640 pengguna, tetap tumbuh tinggi di dunia.
• April 2010 pengguna Facebook di Indonesia mencapai 21.027.660 tumbuh tertinggi kedua di Asia setelah Malaysia serta melampaui pengguna Facebook di Turki selama bulan Maret 2010.
• Data per 15 April 2010 adalah 22.378.640 pengguna di Indonesia

b. Muxlim

Jika kini masyarakat Indonesia tengah dilanda demam Facebook, umat Muslim di negara-negara Islam justru menggemari Muxlim (www.muxlim.com). Situs gaya hidup komunitas Muslim ini tak kalah hebat dibandingkan Facebook, Friendster, dan MySpace.
Situs jejaring sosial khusus komunitas Muslim itu kali pertama diluncurkan pada 2006. Muxlim Inc yang didirikan Mohamed El-Fatatry dan Pietari Paivenen--dua entrepreneur yang berbasis di Finlandia--itu telah meraih kesuksesan. BBC menabalkan Muxlim sebagai salah satu situs jejaring sosial yang tumbuh paling cepat di dunia.

Tak cuma itu, situs gaya hidup komunitas Muslim ini juga diakses puluhan juta pengunjung setiap tahun. Tak heran, jika Muxlim pun dinobatkan sebagai salah satu finalis Red Herring 100. Pada 2008, surat kabar terkemuka di Finlandia Helsingin Sanomat memasukkan Muxlim Inc dalam 100 perusahaan tersukses di negara itu. My Muxlim menjadi situs jejaring sosial yang menghubungkan umat Muslim di 190 negara. Selain itu, situs ini juga menawarkan Search.Muxlim.com, yang berfungsi untuk melacak dan mencari situs Muslim serta seluruh web. Yang paling hebat, situs jejaring sosial ini menawarkan Quran.Muxlim.com. Dengan fasilitas itu, Anda bisa mendapatkan terjemahan Alquran dalam 25 bahasa.

Menurut pendiri Muxlim, Mohamed El-Fatatry (24), jumlah pengunjung situs jejaring sosial yang diciptakannya mampu mencapai 1,5 juta per bulan pada tahun 2009, naik pesat dibandingkan 18 bulan lalu yang hanya mencapai 100 ribu pengunjung.

4. Hedonisme

Dengan adanya perkembangan budaya global seperti budaya dari negara luar yang mempunyai gaya hidup bebas, dapat dirasakan gaya pergaulan anak muda saat ini yang semakin jauh dari tuntunan agama, bahkan cenderung mengikuti gaya hidup bebas nilai yang bersifat hedonistik atau senang berhura-hura. Bahkan, tampaknya masyarakat sendiri telah bergeser menjadi semakin individualistik sehingga tidak ada lagi kepedulian terhadap satu sama lain untuk saling menjaga serta melindungi diri dan kehormatan.

Hedonisme saat ini seakan telah menjadi suatu "gaya hidup” yang mendasari perilaku sebagain besar manusia. Adalah filsuf Epicurus (341-270 SM) yang memopulerkan paham hedonisme, suatu paham yang menganggap kesenangan dan kenikmatan materi adalah tujuan yang paling utama dalam hidup. Filsafatnya dititikberatkan pada etika yang memberikan ketenangan batin. Kalau manusia mempunyai ketenangan batin, maka manusia mencapai tujuan hidupnya. Tujuan hidup manusia adalah hedone (kenikmatan, kepuasan). Ketenangan batin diperoleh dengan memuaskan keinginannya. Manusia harus dapat memilih keinginan yang memberikan kepuasan secara mendalam. Hedonisme sebagai suatu "budaya” yang meletakkan dimensi kepuasan materi sebagai suatu tujuan utama memicu dan memacu pemanfaatan alam dan atau melakukan aktivitas hidup yang jauh dari dimensi spiritual (moralitas).

Source : MAKALAH SPAI KEL 8 "Peran dan Posisi Umat Islam dalam Budaya Global"

PENGERTIAN BUDAYA GLOBAL

A. Pengertian Budaya Global

1. Pengertian Budaya atau Kebudayaan
Budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa Sansekerta yaitu buddhayah, yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal) diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia. Kebudayaan dapat diartikan “ hal-hal yang bersangkutan dengan akal”. Dalam bahasa Inggris, kebudayaan disebut culture, yang berasal dari kata Latin Colere, yaitu mengolah atau mengerjakan. Bisa diartikan juga sebagai mengolah tanah atau bertani . Kata culture juga kadang diterjemahkan sebagai "kultur" dalam bahasa Indonesia. ( Poespowardojo, 1993).

Menurut The American Herritage Dictionary mengartikan kebudayaan adalah sebagai suatu keseluruhan dari pola prilaku yang dikirimkan melalui kehidupan sosial, seni, agama, kelembagaan, dan semua hasil kerja dan pemikiran manusia dari suatu kelompok manusia. Menurut Koentjaraningrat budaya adalah keseluruhan sistem gagasan tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan miliki diri manusia dengan cara belajar.

Adapun ahli antropologi yang memberikan definisi tentang kebudayaan antara lain:
a. Edward B. Taylor
Dalam buku yang berjudul: Primitive Culture, mendefinisikan bahwa: kebudayaan adalah keseluruhan kompleks, yang didalamnya terkandung ilmu pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat-istiadat dan kemampuan yang lain serta kebiasaan yang didapat oleh manusia sebagai anggota masyarakat.
b. M. Jacobs dan B.J. Stern
Kebudayaan mencakup keseluruhan yang meliputi bentuk teknologi, sosial, ideologi, religi, dan kesenian serta benda, yang kesemuanya merupakan warisan social.
c. Koentjaraningrat
Kebudayaan adalah keseluruhan sistem gagasan, tindakan, dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan belajar.
d. Dr. K. Kupper
Kebudayaan merupakan sistem gagasan yang menjadi pedoman dan pengarah bagi manusia dalam bersikap dan berperilaku, baik secara individu maupun kelompok.
e. William H. Haviland
Kebudayaan adalah seperangkat peraturan dan norma yang dimiliki bersama oleh para anggota masyarakat, yang jika dilaksanakan oleh para anggotanya akan melahirkan perilaku yang dipandang layak dan dapat di terima oleh semua masyarakat.
f. Ki Hajar Dewantara
Kebudayaan berarti buah budi manusia adalah hasil perjuangan manusia terhadap dua pengaruh kuat, yakni zaman dan alam yang merupakan bukti kejayaan hidup manusia untuk mengatasi berbagai rintangan dan kesukaran didalam hidup dan penghidupannya guna mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang pada lahirnya bersifat tertib dan damai.
g. Francis Merill
• Pola-pola perilaku yang di hasilkan oleh interaksi social
• Semua perilaku dan semua produk yang dihasilkan oleh sesorang sebagai anggota suatu masyarakat yang di temukan melalui interaksi simbolis.
h. Bounded et.al
Kebudayaan adalah sesuatu yang terbentuk oleh pengembangan dan transmisi dari kepercayaan manusia melalui simbol-simbol tertentu, misalnya simbol bahasa sebagai rangkaian simbol yang digunakan untuk mengalihkan keyakinan budaya di antara para anggota suatu masyarakat. Pesan-pesan tentang kebudayaan yang di harapkan dapat di temukan di dalam media, pemerintahan, intitusi agama, sistem pendidikan dan semacam itu.
i. Mitchell (Dictionary of Soriblogy)
Kebudayaan adalah sebagian perulangan keseluruhan tindakan atau aktivitas manusia dan produk yang dihasilkan manusia yang telah memasyarakat secara sosial dan bukan sekedar di alihkan secara genetikal.
j. Robert H Lowie
Kebudayaan adalah segala sesuatu yang di peroleh individu dari masyarakat, mencakup kepercayaan, adat istiadat, norma-norma artistik, kebiasaan makan, keahlian yang di peroleh bukan dari kreatifitasnya sendiri melainkan merupakan warisan masa lampau yang di dapat melalui pendidikan formal atau informal.
k. Arkeolog R. Seokmono
Kebudayaan adalah seluruh hasil usaha manusia, baik berupa benda ataupun hanya berupa buah pikiran dan dalam penghidupan.

Menurut Koentjaraningrat dalam Notowidagdo (2002) tujuh unsur kebudayaan sebagai kultural universal yang didapatkan pada semua bangsa didunia, ialah:
a. Bahasa
b. Sistem teknologi
c. Sistem mata pencaharian
d. Organisasi sosial
e. Sistem pengetahuan
f. Kesenian
g. Religi

Kebudayaan didefinisikan sebagai keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial yang digunakannya untuk memahami dan menginterprestasikan lingkungan dan pengalamanya, serta menjadi landasan bagi tingkah-lakunya. Dengan demikian, kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, rencana-rencana, dan strategi-strategi yang terdiri atas serangkaian model-model kognitif yang dipunyai oleh manusia, dan digunakannya secara selektif dalam menghadapi lingkungannya sebagaimana terwujud dalam tingkah-laku dan tindakan-tindakannya

2. Pengertian Globalisasi

Globalisasi adalah suatu proses di mana antarindividu, antarkelompok, dan antarnegara saling berinteraksi, bergantung, terkait, dan mempengaruhi satu sama lain yang melintasi batas negara. Dalam banyak hal, globalisasi mempunyai banyak karakteristik yang sama dengan internasionalisasi sehingga kedua istilah ini sering dipertukarkan. Sebagian pihak sering menggunakan istilah globalisasi yang dikaitkan dengan berkurangnya peran negara atau batas-batas negara.

Menurut asal katanya, kata "globalisasi" diambil dari kata global, yang maknanya ialah universal. Menurut Achmad Suparman Globalisasi adalah suatu proses menjadikan sesuatu (benda atau perilaku) sebagai ciri dari setiap individu di dunia ini tanpa dibatasi oleh wilayah. Globalisasi belum memiliki definisi yang mapan, kecuali sekedar definisi kerja (working definition), sehingga tergantung dari sisi mana orang melihatnya. Ada yang memandangnya sebagai suatu proses sosial, atau proses sejarah, atau proses alamiah yang akan membawa seluruh bangsa dan negara di dunia makin terikat satu sama lain, mewujudkan satu tatanan kehidupan baru atau kesatuan ko-eksistensi dengan menyingkirkan batas-batas geografis, ekonomi dan budaya masyarakat.
Scholte melihat bahwa ada beberapa definisi yang dimaksudkan orang dengan globalisasi:

• Internasionalisasi: Globalisasi diartikan sebagai meningkatnya hubungan internasional. Dalam hal ini masing-masing negara tetap mempertahankan identitasnya masing-masing, namun menjadi semakin tergantung satu sama lain.
• Liberalisasi: Globalisasi juga diartikan dengan semakin diturunkankan batas antar negara, misalnya hambatan tarif ekspor impor, lalu lintas devisa, maupun migrasi.
• Universalisasi: Globalisasi juga digambarkan sebagai semakin tersebarnya hal material maupun imaterial ke seluruh dunia. Pengalaman di satu lokalitas dapat menjadi pengalaman seluruh dunia.
• Westernisasi: Westernisasi adalah salah satu bentuk dari universalisasi dengan semakin menyebarnya pikiran dan budaya dari barat sehingga mengglobal.
Globalisasi merupakan suatu proses yang mencakup keseluruhan dalam berbagai bidang kehidupan sehingga tidak tampak lagi adanya batas-batas yang mengikat secara nyata, sehingga sulit untuk disaring atau dikontrol.

Adapun konsep globalisasi menurut pendapat para ahli adalah :
a. Malcom Waters
Globalisasi adalah sebuah proses sosial yang berakibat bahwa pembatasan geografis pada keadaan sosial budaya menjadi kurang penting, yang terjelma didalam kesadaran orang.
b. Emanuel Ritcher
Globalisasi adalah jaringan kerja global secara bersamaan menyatukan masyarakat yang sebelumnya terpencar-pencar dan terisolasi kedalam saling ketergantungan dan persatuan dunia.
c. Thomas L. Friedman
Globlisasi memiliki dimensi ideologi dan teknologi. Dimensi teknologi yaitu kapitalisme dan pasar bebas, sedangkan dimensi teknologi adalah teknologi informasi yang telah menyatukan dunia.
d. Princenton N. Lyman
Globalisasi adalah pertumbuhan yang sangat cepat atas saling ketergantungan dan hubungan antara negara-negara didunia dalam hal perdagangan dan keuangan.
e. Leonor Briones
Demokrasi bukan hanya dalam bidang perniagaan dan ekonomi namun juga mencakup globalisasi institusi-institusi demokratis, pembangunan sosial, hak asasi manusia, dan pergerakan wanita

Teori globalisasi
Cochrane dan Pain menegaskan bahwa dalam kaitannya dengan globalisasi, terdapat tiga posisi teoritis yang dapat dilihat, yaitu:
a. Para globalis percaya bahwa globalisasi adalah sebuah kenyataan yang memiliki konsekuensi nyata terhadap bagaimana orang dan lembaga di seluruh dunia berjalan. Mereka percaya bahwa negara-negara dan kebudayaan lokal akan hilang diterpa kebudayaan dan ekonomi global yang homogen. meskipun demikian, para globalis tidak memiliki pendapat sama mengenai konsekuensi terhadap proses tersebut.
a) Para globalis positif dan optimistis menanggapi dengan baik perkembangan semacam itu dan menyatakan bahwa globalisasi akan menghasilkan masyarakat dunia yang toleran dan bertanggung jawab.
b) Para globalis pesimis berpendapat bahwa globalisasi adalah sebuah fenomena negatif karena hal tersebut sebenarnya adalah bentuk penjajahan barat (terutama Amerika Serikat) yang memaksa sejumlah bentuk budaya dan konsumsi yang homogen dan terlihat sebagai sesuatu yang benar dipermukaan. Beberapa dari mereka kemudian membentuk kelompok untuk menentang globalisasi (antiglobalisasi).
b. Para tradisionalis tidak percaya bahwa globalisasi tengah terjadi. Mereka berpendapat bahwa fenomena ini adalah sebuah mitos semata atau, jika memang ada, terlalu dibesar-besarkan. Mereka merujuk bahwa kapitalisme telah menjadi sebuah fenomena internasional selama ratusan tahun. Apa yang tengah kita alami saat ini hanyalah merupakan tahap lanjutan, atau evolusi, dari produksi dan perdagangan kapital.
c. Para transformasionalis berada di antara para globalis dan tradisionalis. Mereka setuju bahwa pengaruh globalisasi telah sangat dilebih-lebihkan oleh para globalis. Namun, mereka juga berpendapat bahwa sangat bodoh jika kita menyangkal keberadaan konsep ini. Posisi teoritis ini berpendapat bahwa globalisasi seharusnya dipahami sebagai "seperangkat hubungan yang saling berkaitan dengan murni melalui sebuah kekuatan, yang sebagian besar tidak terjadi secara langsung". Mereka menyatakan bahwa proses ini bisa dibalik, terutama ketika hal tersebut negatif atau, setidaknya, dapat dikendalikan
3. Budaya Global
Globalisasi yang datang pada paroh dasawarsa 1970-an, bukanlah sebuah konsep tunggal untuk menjelaskan sebuah fenomena tunggal. Pada kenyataannya, banyak versi tentang globalisasi tetapi sebagai sebuah generalisasi, globalisasi adalah paradoks, dan paradoks ini tercipta sebagai akibat hadirnya di dalam ruang-waktu yang sama dalam skala global dua sifat yang saling bertentangan satu sama lainnya secara kontradiktif: homogenisasi/heterogenisasi, penyeragaman/keberanearagaman, unifikasi/ perbedaan, kesatuan/keanekaragaman.

Budaya global (global culture), yang dapat diartikan sebagai sebuah konsep yang digunakan untuk menjelaskan tentang ‘mendunianya’ berbagai aspek kebudayaan, yang di dalamnya terjadi proses penyatuan, unifikasi, dan homogenisasi. Ada juga yang mengatakan bahwa budaya global merupakan suatu proses pertukaran antar seseorang ataupun kelompok atas pengetahuan, maupun hasil-hasil alam, dalam level global, dimana ini pun turut meningkatkan komunikasi antar kelompok atau perseorangan tersebut.

Globalisasi adalah proses kultural yang jauh lebih kompleks ketimbang sekedar penyeragaman, yang di dalamnya melibatkan apa yang disebut secara umum sebagai ‘silang budaya’ (cross-culture). Kebudayaan berada dalam sebuah ‘persilangan’ atau ‘perlintasan’ ketika di dalam sebuah ruang-waktu ‘bertemu’ dua atau lebih kebudaayaan, yang di dalam persilangan itu berbagai kemungkinan dapat terjadi.
Saat ini dapat dikatakan bahwa kita berada dalam keadaan monoculture, dimana setiap unsur kebudayaan disatukan dalam ‘kesatuan budaya global’, yang akhirnya menciptakan homogenisasi gaya hidup, gaya, identitas, pandangan hidup, bahkan pandangan dunia.

Salah satu bentuk nyata dari globalisasi budaya adalah berkembangnya bapa yang disebut sebagai pop culture. Pop culture atau budaya populer merupakan nilai, cita-rasa, perilaku, dan gaya hidup yang umumnya bersumber pada budaya barat, terutama Amerika. Perusahaan-perusahaan multinasional yang merupakan media berkembangnya budaya ini sebagian besar berasal dari Amerika.

SOURCE : MAKALAH SPAI Kel 8 "Peran dan posisi umat Islam dalam Budaya Global