My Home

Tampilkan postingan dengan label kimia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kimia. Tampilkan semua postingan

Selasa, Maret 08, 2011

[Part 3] Pupuk dan Jenisnya ^^

(2) PUPUK ZA
1. Merupakan pilihan terbaik untuk memenuhi kebutuhan unsur hara Belerang.
2. Terdiri dari senyawa Sulfur dalam bentuk Sulfat yang mudah diserap dan Nitrogen dalam bentuk amonium yang mudah larut dan diserap tanaman. 3. Mengandung Belerang dan Nitrogen dengan kadar tinggi:
Belerang 24 %
Nitrogen 21 %
Bila tanaman kekurangan unsur hara, maka :
• Produksi protein tanaman menurun, pertumbuhan sel tanaman kurang aktif.
• Terjadi penimbunana amida bebas dan asam amino sampai batas yang berbahaya bagi tanaman, terjadi kerusakan aktifitas fisiologis dan mudah tererang hama dan penyakit.
• Produksi butir hijau daun menurun, proses asimilasi dan sintesis karbohidrat terlambat, tanaman mengalami klorosis / kekuningan, dan hasil panen rendah.
Pupuk ZA
• Mudah penangannya dan ekonomis.
• Tidak menyerap banyak air.
• Digunakan sebagai pupuk dasar dan susulan.
• Senyawa kimianya stabil sehingga tahan disimpan dalam waktu lama.
• Dapat dicampur dengan pupuk lain.
• Aman digunakan untuk semua jenis tanaman.
• memperbaiki kualitas dan meningkatkan produksi serta nilai gizi hasil panen dan pakan ternak karena peningkatan kadar protein pati, padi, gula, lemak, vitamin, dll.
• Memperbaiki rasa dan warna hasil panen.
• Tanaman lebih sehat dan lebih tahan terhadap gangguan lingkungan (hama, penyakit, kekeringan)
Manfaat belerang bagi tanaman :
• Membantu pembentukan butir hijau daun sehingga daun menjadi lebih hijau.
• Menambah kandungan protein dan vitamin hasil panen.
• Meningakatkan jumlah anakn yang menghasilkan (pada tanaman padi).
• berperan penting pada proses pembulatan zat gula.
• Memperbaiki warna, aroma, dan kelenturan daun tembakau ( khusus pada tembakau omprongan).
• Memperbaiki aroma, mengurangi penyusutan selama penyimpangan, memperbesar umbi bawang merah dan baeang putih.
gejala kekurangan unsur hara belerang :
• Tanaman tumbuh kerdil, kurus dan panjang.
• Pertumbuhan dan kematangan terlambat, terutama pada tanaman biji-bijian.
• Pada sebagian besar tanaman, daun muda berwarna hijau kekuning-kuningan, merah sampai tulang daun. Pada beberapa tanaman seperti tembakau, jeruk dan kapas, gejala lebih dahulu terlihat pada daun tua.
• Pada tanaman kacang-kacangan pembentukan bintil akar berkurang.
• Buah-buahan tidak matang sempurna dan warnanya menjadi hijau terang.
• Timbul bintik-bintik pada daun, seperti pada kentang.
Cara penggunaan pupuk ZA
• Pupuk ZA sangat dianjurkan sebagai pupuk dasar dan pupuk susulan untuk semua jenis tanaman.(Unsur hara Belerang dibutuhkan tanaman sejak awal pertumbuhan)
• Pupuk ZA dapat dicampur dengan pupuk yang lain
(3) PUPUK SP-36
Pupuk SP-36 merupakan pilihan terbaik untuk memenuhi kebutuhan tanaman akan unsur hara Fosfor karena keunggulan yang dimilikinya :
1. Kandungan hara Fosfor dalam bentuk P2O5 tinggi yaitu sebesar 36%.
2. Unsur hara Fosfor yang terdapat dalam pupuk SP-36 hampir seluruhnya larut dalam air.
3. Bersifat netral sehingga tidak mempengaruhi kemasaman tanah.
4. Tidak mudah menghisap air, sehingga dapat disimpan cukup lama dalam kondisi penyimpanan yang baik.
5. Dapat dicampur dengan Pupuk Urea atau Pupuk ZA pada saa penggunaan.
Pupuk SP-36 diproduksi
• Dalam upaya memenuhi kebutuhan pupuk fosfat.
• Mendukung pencapaian swasembada pangan.
• Usaha efisiensi penggunaan pupuk Fosfat ditingkat petani.
Kandungan
• P2O5 total : 36%
• P2O5 tersedia : 34%
• P2O5 larut air : 30%
• BENTUK : Butiran
• WARNA : Keabu-abuan
Manfaat fosfor bagi tanaman
• Memacu pertumbuhan akar dan pembentukan sistem perakaran yang baik sehingga tanaman dapat mengambil unsur hara lebih banyak dan pertumbuhan tanaman menjadi sehat serta kuat.
• Menggiatkan pertumbuhan jaringan tanaman yang membentuk titik tumbuh tanaman.
• Memacu pembentukan bunga dan masaknya buah/biji, sehingga mempercepat masa panen.
• Memperbesar persentase terbentuknya bunga menjadi buah dan biji.
• Menambah daya tahan tanaman terhadap serangan hama dan penyakit.
Gejala kekurangan unsur hara fosfor
• Tanaman akan tumbuh kerdil.
• Pada tanaman muda, daun akan berwarna hijau tua keunguan.
• Kadang-kadang tampak pula warna hijau kekuning-kuningan karena kekurangan Fosfor cenderung menghambat penyerapan unsur hara Nitrogen.
• Warna kekuningan ini akan lebih dulu dijumpai pada daun tua karena sifat Fosfor yang mobil dalam tanah, sehingga dalam keadaan kekurangan, unsur hara Fosfor dengan cepat ditranslokasikan ke bagian tanaman yang lebih muda.
• Pada tanaman buah-buahan pucuk daun akan berwarna browns atau ungu.
• Pembentukan bunga/buah/biji terhambat sehingga panen terlambat. Selain itu persentase bunga yang menjadi buah menurun karena penyerbukan yang tidak sempurna.
Cara penggunaan pupuk SP-36
Untuk tanaman semusim Pupuk SP-36 sebaiknya digunakan sebagai pupuk dasar sedangkan untuk tanaman tahunan diberikan pada awal atau akhir musim hujan atau segera setelah panen.

E. Berdasarkan Fasanya
1.Pupuk padat, yakni pupuk yang umumnya mempunyai kelarutan yang beragam mulai dari yang mudah larut sampai yang sukar larut dalam air.
2.Pupuk cair, yakni pupuk yang penggunaannya dilarutkan terlebih dahulu dengan air. Umumnya, pupuk ini disemprotkan pada permukaan daun. Karena mengandung banyak unsure hara, baik mikro maupun makro, harga pupuk ini relatif mahal.

F. Berdasarkan Cara Penggunaannya
1.Pupuk Daun, yakni pupuk yang cara pemupukan dilarutkan terlebih dahulu dengan air, kemudian pupuk ini disemprotkan pada permukaan daun.
2.Pupuk akar atau pupuk tanah, yakni pupuk yang diberikan ke dalam tanah di sekitar akar agar diserap oleh akar tanaman.

G. Berdasarkan reaksi Fisiologisnya
1.Pupuk yang memppunyai reaksi fisiologis asam, yakni pupuk yang diberikan ke dalam tanah ada kecenderungan tanah akan menjadi lebih asam misalnya: ZA dan Urea.
2.Pupuk yang diberikan memiliki reaksi fisiologis basa, yakni pupuk yang diberikan ke dalam tanah menyebabkan pH tanah cenderung naik, misalnya pupuk kalsium sianida, calnitro.

[Part 2] Pupuk dan Jenisnya ^^

C. Berdasarkan Asalnya
1.Pupuk alam, yakni pupuk yang terdapat di alam atau dibuat dengan bahan alam tanpa proses yang berarti. Misalnya pupuk kompos, pupuk kandang, pupuk hijau, dan pupuk batuan P.
2.Pupuk buatan, yakni pupuk yang dibuat oleh pabrik. Misalnya TSP, rustika, urea. Pupuk ini dibuat oleh pabrik dengan mengubah sumber daya alam melalui proses fisika dan kimia.

D. Berdasarkan Senyawanya:
1. Pupuk Organik, yakni pupuk yang berupa senyawa organik. Kebanyakan pupuk alam tergolong pupuk organic, misalnya pupuk kandang, kompos, dan guano. Pupuk alam yang tidak termasuk pupuk organic adalah rock phosphate, yang umumnya berasal dari batuan sejenis apatit .
Dalam pupuk organik termasuk berbagai macam kotoran binatang (kotoran sapi, babi, ayam dan lain-lain), hasil buangan dari binatang dan tanaman (kompos dan endapan dari kotoran pembersihan air) serta pupuk hijau. Pupuk organik mengandung berbagai macam zat makanan tanamaan yang sebagian terdapat di dalam persenyawaan kimia yang sama seperti pada pupuk buatan.
Hasil tanaman hampir seluruhnya ditentukan oleh kesuburan alamiah dari tanah dan banyaknya pupuk organik yang tersedia.
a. Reaksi dari pupuk organik
pupuk organik sangat penting terutama untuk :
1. memperbaiki struktur tanah. Pada waktu penguraian bahan organik oleh organisme di dalam tanah dibentuk produk yang mempunyai sifat sebagai perekat, yang mengikat butir-butir pasir menjadi butiran yang lebih besar. Lagi pula di dalam tanah tumbuh sistem tali- temali yang terdirin dari benang-benang jamur yang mengikat bagian tanah menjadi kesatuan. Hal yang sama berlangsung juga di mana akar halus tanaman pupuk hijau berfungsi sebagai pengikat.
2. menaikkan daya serap tanah terhadap air. Bahan organik mempunyai daya absorpsi yang besar terhadap air tanah. Karena itu pupuk organik sering kali mempunyai pengaruh positif terhadap hasil tanaman, apalagi pada musim panas yang kering.
3. menaikkan kondisi kehidupan di dalam tanah. Hal ini terutama disebabkan karena organisme di dalam tanah dapat memanfaatkan bahan organik sebagai makanan. Berbagai organisme itu di dalam tanah mempunyai fungsi penting yang beraneka ragam sifatnya.
4. mengandung zat makanan tanaman. Berbagai zat makanan tanaman hanya sebagian dapat diserap oleh tanaman. Bagian yang penting daripadanya baru tersedia sesudah terurainya bahan organik itu. Pupuk organik biasanya menunjukan pengaruh reaksi nitrogen yang jelas terlihat. Karena pada prakteknya orang tidak banyak memberikan perhatian terhadap unsur bahan makanan ini di dalam pupuk organik. Kebutuhan akan pupuk buatan akan menjadi berkurang dan bertambahnya pupuk organik yang diberikan.
Pemakaian pupuk organik yang teratur pada akhirnyameningkatkan hasil tanaman. Namun dalam hal ini bukan berarti bahwa pupuk buatan tidak diperlukan lagi. Karena banyaknya pupuk organik yang tersedia sebetulnya masih belum cukup untuk mendapatkan hasil yang maksimum. Yang menjadi persoalan adalah bukan mengenai apakah pupuk buatan atau pupuk organik yang harus dipakai, tetapi dalam kombinasi yang bagaimana kedua pupuk tersebut harus dipakai dengan sebaik-baiknya.

(1) Pupuk Kandang
Pupuk kandang adalah pupuk yang berasal dari campuran kotoran hewan ternak atau urine dari hewan, serta sisa-sisa makanan yang tidak dapat dihabiskan. Kebanyakan berasal dari kuda, sapi, kerbau, babi, kambing, atau domba. Pupuk kandang ini dapat dibagi ke dalam dua bentuk, yaitu :
a. Bahan padat (feses) : kotoran dalam bentuk yang padat.
b. Bahan cair (urine) : kotoran dalam bentuk cairan.
Susunan dari komponen pupuk kandang bervariasi. Oleh karena itu, maka kualitas dari pupuk sangat ditentukan oleh perbandingan diantara komponen penyusunnya. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi susunan dari kualitas pupuk adalah :
a. Jenis ternak yang masing-masing mempunyai kekhasannya untuk pupuk yang dihasilkan.
b. Umur ternak
c. Kualitas makanan yang diberikan, sebab semakin baik susunan makanannya, semakin baik pula nilai pupuk kandangnya.
d. Jumlah dan jenis alas kandang
e. Cara menyimpan
Pupuk kandang mempunyai kegunaan yang lebih baik dari pupuk alam lainnya maupun dari pupuk buatan. Manfaat ini antara lain :
a. Bermanfaat sebagai humus, yang merupakan zat-zat organik yang terdapat di dalam tanah yang terjadi karena proses pemecahan sisa-sisa tanaman dan hewan, terdiri dari zat organik yang mengalami pelapukan, zat organik peralihan yang masih dan sedang mengalami pemecahan yang tidak dapat pecah lagi menjadi susunan yang lebih sederhana. Humus ini menjaga atau mempertahankan struktur tanah. Oleh karena itu tanah mudah diolah dan terisi banyak oksigen. Berbeda dengan pupuk buatan, misalnya urea, yang bila dipakai tanpa aturan akan merusak struktur tanah, sehingga tanah akan mengeras.
b. Sebagai sumber hara, yaitu nitrogen, fosfor, dan kalium yang sangat penting bagi pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Unsur-unsur tersebut berada dalam keadaan seimbang.
c. Menaikkan data menahan air (water capasity). Akibat dari manfaat di poin pertama yaitu sebagai humus, tanah akan lebih mampu menahan banyak air, sehingga air hujan tidak langsung mengalir ke tempat yang lebih rendah atau meresap ke dalam tanah. Adanya air tanah akan memudahkan diserapnya bahan-bahan yang larut oleh bulu akar.
d. Banyak mengandung mikroorganisme. Mikroorganisme ini dapat menghancurkan sampah-sampah yang ada dalam tanah hingga berubah menjadi humus. Selain itu, mikroorganisme mensintesa senyawa-senyawa tertentu hingga berguna bagi tanaman.

Menurut Tisdale dan Nelson (1965), biasanya komposisi dari pupuk kandang yaitu 0,5% N, 0,25% P2O5, dan 0,5% K2O. Ini merupakan gambaran rata-ratanya. Hal ini sangat bervariasi dan tergantung pada keadaan sekitarnya.
Pupuk kandang, di samping mengandung unsur makro seperti nitogen, fosfor dan kalium, juga mengandung unsur makro seperti kalsium, magnesium, tembaga, dan sejumlah kecil mangan.
Berdasarkan observasi yamg kami lakukan, untuk proses pembuatan pupuk kandang ini kami mengambil sample pupuk kandang yang diperoleh dari kotoran sapi.
Cara menghasilkan pupuk kandang dari kotoran sapi :
Pupuk kotoran sapi dapat diperoleh dari :
a. Kandang dimana sapi dikumpulkan.
b. Kandang dengan konstruksi jalur panjang dimana sapi itu dikandangkan.
Pupuk dalam bentuk padat diperoleh dimana
Pupuk dalam bentuk padat diperoleh dimana diadakan pemisahan antara pengumpulan pupuk dalam bentuk yang berbeda-beda. Feses dengan jeraminya biasanya dibuang dengan menggunakan sistem penyaluran secara mekanis, dengan mengumpulkannya dan ditumpukkan di luar kandang. Urinnya disalurkan ke dalam suatu bak tertentu tempat pupuk cairan. Cara pengumpulan pupuk seperti ini digunakan 1-3 kg jerami untuk setiap sapi seharinya.
Pada kandang yang menggunakan konstruksi jalur panjang dipakai sistem penyimpanan pupuk secara dicampurkan. Pupuk campuran ini selain dari kotoran binatang yang padat dan cair juga mengandung banyak jerami.
Untuk sistem ini dibutuhkan 3-8 kg jerami setiap hari untuk setiap binatang, tergantung dari susunan dalam mengatur kandang. Pupuk padat dari kandang ayam dan babi biasanya juga mengandung sejumlah jerami.
Kotoran cair atau air kencing :
Produk ini terutama terdiri dari kotoran yang cair (air kencing). Biasanya bercampur dengan bagian-bagian kecil pupuk padat yang dibuat encer oleh pelimpahan air minum dan air pembersihan,dan lain-lain.
Usaha mendapatkannya yaitu :
Kotoran cair didapatkan bilamana dilakukan pemisahan dalam cara penyimpanan pupuk. Kotoran cair itu biasanya disalurkan ke dalam bak khusus di mana ia dapat disimpan untuk beberapa waktu lamanya.

Pemakaian pupuk binatang
Tanaman yang perlu diberikan pupuk kandang
Untuk di tanah pertanian pupuk kandang terutama diberikan kepada tanaman kentang, bit , ubi, dan sebagainya. Tanaman seperti itu membutuhkan struktur tanah yang baik, membutuhkan banyak nitrogen dan kalium, dan pemberian nitrogen dengan cara yang paling baik adalah dalam bentuk tersebut.
Hasil finansial yang paling baik didapatkan dengan memberikan pupuk kandang kepada tanaman kentang konsumsi. Namum kadar hidrokarbon dari kentang akan menjadi tertekan karena pemberian pupuk ini dalam jumlah yang terlalu banyak (karena banyak kalium dan khlor yang dikandungnya). Akibatnya adalah negatif kalau tanaman dimaksudkan untuk keperluan pabrik. Pada tanaman bit pengaruhnya sedikit menurunkan kadar gula. Lagi pula pemberian pupuk kandang mempunyai pengaruh negatif terhadap hasil gula yang diolah di pabrik.
Jumlah yang diberikan
Untuk tanah pertanian hal ini biasanya tergantung dari jumlah nitrogen yang diberikan dalam bentuk ini. Seperti diketahui, nitrogen yang terlalu banyak pada umumnya mempunyai pengaruh negatif terhadap tanaman. Bilamana kalium yang terlalu berlebihan, maka pengaruh negatifnya hanya sedikit (selain dari untuk kentang pabrik), sedangkan kelebihan asam fosfat biasanya tidak menunjukan pengaruh negatif.
Untuk tanah rumput jumlah maksimum pupuk kandang perlu diukur dengan jumlah kalium yang dapat diberikan. Sebagaimana diketahui, pemupukan dengan kalium yang terlalu banyak membawa akibat menurunkan kadar kalsium dan magnesium dari rumput. Apalagi apabila hal ini terjadinya bersamaan dengan pemupukan banyak nitrogen, maka akibatnya akan sangat buruk untuk kesehatan ternak.
Kebutuhan kalium dalam kondisi kalium yang cukup dari tanah adalah 100 kg K2O untuk tanaman rumput pada tanah liat dan 140 kg K2O untuk tanaman rumput pada tanah pasir di mana digunakan sistem 1x pembabatan rumput dan seterusnya dipakai untuk penggembalaan ternak.
Untuk tanaman rumput di tanah pasir, masih boleh diberikan ekstra sejumlah pupuk babi, pupuk anak sapi dan ayam. Karena pada saat pemberian pupuk dalam musim dingin, disitu biasanya terjadi pengurasan dari sejumlah kalium. Jika bermaksud untuk menghindari kemungkinan timbulnya penyakit tetani rumput, untuk itu boleh diberikan lebih banyak lagi. Apalagi jika untuk lapangan rumput di tanah liat, maka tambahan pemberian pupuk kandang dapat dipertanggungjawabkan.

(2) Pupuk Hijau
Karena untuk mendapatkan pupuk kandang dalam jumlah besar mulai mengalami kesulitan, maka untuk memenuhi kebutuhan dipakailah pupuk hijau. Yang dimaksud pupuk hijau adalah segala macam tanaman atau sampah, diperoses dengan bantuan bakteri yang dibenamkan ke dalam tanah untuk dipergunakan sebagai pupuk organik.
Tanaman yang sering dipergunakan untuk pupuk hijau umumnya jenis kacang-kacangan (leguminosae), karena jenis ini banyak menambah unsur hara Nitrogen. Tetapi apabila tidak ada, tanaman lainnya pun dapat dipergunakan walaupun kandungan Nitrogennya tidak sebanyak kacang-kacangan. Tanaman pengganti ini fungsinya hanyalah menambah humus dalam tanah saja.
Sifat-sifat dari pupuk hijau adalah :
a. Dalam waktu yang singkat dapat menghasilkan pupuk yang banyak.
b. Tahan terhadap kekeringan dan dapat tumbuh pada tanah kurus.
c. Tidak memerlukan penanganan khusus dalam pemeliharaannya.
d. Tidak akan berkompetisi dengan tanaman pokok dalam pemenuhan akan umur haranya.
e. Mudah diperbanyak dengan biji, harga bijinya relatif murah.
f. Barangnya mudah dipangkas karena tidak berkayu.
g. Tidak mempunyai penyakit dan hama yang serupa dengan tanaman pokok.
Sedangkan kegunaan dari pupuk hijau adalah :
a. Memperkaya N dalam tanah.
b. Mempunyai pengaruh yang baik terhadap kehidupan mikro-organisme.
c. Memperkaya tanah dengan humus.
d. Dapat mengembalikan unsur-unsur hara yang tercuci.
e. Menekan pertumbuhan gulma.
Dampak Negatif dari penggunaan pupuk hijau antara lain:
a. Lapangan yang digunakan untuk pembuatan pupuk hijau menjadi kotor
b. Timbulnya pengganggu pemakan daun dan penyakit
c. Tanaman tumbuh dengan tidak merata
d. Nitrogen yang dipergunakan sulit diperkirakan jumlahnya
Cara membuat pupuk hijau :
• Bahan dan komposisi :
- 200 kg hijau daun atau sampah dapur.
- 10 kg dedak halus.
- ¼ kg gula pasir/gula merah.
- ¼ liter bakteri.
- 200 liter air atau secukupnya.
• Cara pembuatan :
-Hijau daun atau sampah dapur dicacah dan dibasahi.
-Campurkan dedak halus atau bekatul dengan hijau daun.
-Cairkan gula pasir atau gula merah dengan air.
-Masukkan bakteri ke dalam air. Campurkan dengan cairan gula pasir atau gula merah. Aduk hingga rata.
-Cairan bakteri dan gula disiramkan pada campuran hijau daun/sampah+bekatul. Aduk sampai rata, kemudian digundukkan/ditumpuk hingga ketinggian 15-20 cm dan ditutup rapat.
-Dalam waktu 3-4 hari pupuk hijau sudah jadi dan siap digunakan.
Penggolongan pupuk hijau menurut kegunaannya :
Menurut kegunaannya, tanaman pupuk hijau dibagi menjadi 3 golongan :
a. Tanaman pupuk hijau sebagai pohon pelindung.
Golongan ini umumnya berbentuk pohon yang tinggi dan tajuknya rindang.
- Pertumbuhannya harus cepat dan banyak daun.
- Daun-daunnya lekas membusuk.
- Perakarannya dalam sehingga tidak mudah tumbang dan dapat mengambil unsur hara yang tercuci.
- Batang dan cabangnya keras sehingga tidak mudah patah.
- Tidak mempunyai hama dan penyakit yang sama dengan tanaman yang dilindungi.
- Dapat memberantas semak-semak yang merugikan.
- Pertumbuhannya tidak mengganggu tanaman yang dilindungi.
Contoh-contoh yang masuk golongan ini yaitu :
• Leucaena glauca (Lamtoro-Kemelandingan-petai cina)
• Erthina lithospherma (dadap)
• Albizia falcate (sengon laut)
• Sesbania grandiflora (turi putih)
• Accasia decurens
b. Tanaman pupuk hijau sebagai pupuk tanaman.
Golongan tanaman ini pada umumnya berbentuk perdu dan dipergunakan untuk memupuk tanaman semusim misalnya padi, jagung, ubi kayu, ubi jalar, tembakau dan sebagainya. Sebagai pupuk tanaman, tanaman ini mempunyai sifat-sifat :
- cepat menghasilkan bahan organik sebanyak-banyaknya
- tidak banyak berkayu
- mudah membusuk
- banyak mengandung N
- tahan kekurangan air
- tidak merambat bila dipakai sebagai tanaman sela.
Contoh tanaman pupuk :
• Crotalaria juncea
• Crotalaria anagyraides
• Crotalaria usaramaensis
• Tephrosia candida
• Teprosua vogell
c. Tanaman pupuk hijau sebagai penutup tanah
Golongan ini umumnya berbentuk semak yang mempunyai batang yang lembek dan menjalar. Sifat-sifat yang dimiliki :
- Mudah ditanam dan bijinya gampang didapat
- Mudah tumbuh dan menutup permukaan tanah dengan tebal dan rata
- Banyak menghasilkan bahan mulch untuk melindungi, menahan dan mencegah erosi dan penguapan air tanah.
- Memberikan bahan organik kepada tanah dan unsur hara N, sehingga mampu menambah kesuburan.
- Tidak bersaing dengan tanaman yang dilindungi dalam soal air dan unsur haranya.
Contoh-contoh tanaman penutup tanah :
• Calopgonium muconoides
• Centrosema
• Vigna hesei
• Indigofera hendecaphylia
• Mimosa invis

(3) Pupuk Kompos
Dengan pupuk kandang dan pupuk hijau saja, belum dapat dipenuhi kebutuhan bahan organik untuk pemupukan. Karena itu mulai dikenal pupuk kompos, yaitu suatu produk yang terdiri sebagian besar dari sampah buangan organik yang secara keseluruhan atau sebagian telah mengalami kondisi pengeraman dalam suhu yang tinggi. Bahan organik yang telah terkompos dengan baik bukan hanya memperkaya bahan makanan untuk tanaman tetapi terutama berperanan besar terhadap perbaikan sifat-sifat tanah, anatara lain :
a. Bahan organik memperbesar daya ikat tanah yang berpasir, sehingga struktur tanah diperbaiki sehingga tidak terlalu berderai.
b. Dapat memperbaiki struktur tanah yang berlempung, sehingga tanah berat dengan penambahan bahan organik akan menjadi lebih ringan.
c. Akan mempertinggi kemampuan tanah menampung air bagi tanaman.
d. Akan memperbaiki drainase dan tata udara tanah, terutama tanah berat. Dengan tata udara tanah yang baik dan kandungan air yang cukup tinggi maka suhu tanah akan lebih stabil.
e. Dapat meningkatkan pengaruh pemupukan dari pupuk buatan.
f. Dapat mempertinggi daya ikat tanah terhadap zat hara, sehingga tidak mudah tercuci oleh pengairan atau air hujan.
Kompos yang terjadi dengan sendirinya mempunyai kualitas yang kurang baik karena dalam proses penghancuran sering terjadi hal-hal yang merugikan, seperti pencucian kandungan unsur-unsur penting dan penguapan oleh sinar matahari. Cara memperoleh kompos yang baik adalah dengan mengaktifkan perkembangan bakteri yang melakukan penghancuran terhadap bahan-bahan organic dalam waktu yang singkat, dan menghindarkan faktor-faktor yang dapat mengurangi kualitas kompos.
Semua sisa hasil pertanian dapat digunakan. Sisa tanaman, kotoran ternak, air kencing ternak, sisa makanan ternak, batang dan ranting tanaman, daun-daun yang jatuh, semuanya ini dapat dijadikan kompos.
Agar pembuatan kompos berhasil, perlu benar-benar dikuasai beberapa syarat yang diperlukan. Syarat-syarat tersebut antara lain menyangkut soal :
1. Susunan bahan mentah
Sampai pada batas tertentu, semakin kecil ukuran potongan bahan mentahnya, semakin cepat pula waktu pembusukannya. Hal ini dikarenakan semakin banyak permukaan yang tersedia bagi bakteri pembusuk untuk menyerang dan menghancurkan material-material tersebut. Meskipun begitu, apabila pencincangan material terlampau kecil, timbunan akan menjadi mampat dan tidak terkena udara.
2. Suhu dan ketinggian timbunan kompos
Penjagaan panas sangat penting dalam pembuatan kompos. Dan satu faktor yang menentukan tingginya suhu adalah tinggi timbunan itu sendiri.
Sebuah timbunan yang terlalu dangkal akan kehilangan panas dengan cepat, karena tidak adanya cukup material untuk menahan panas itu dan menghindarkan pelepasannya. Di bawah suhu-suhu yang optimum, bakteri-bakteri yang menyukai panas (yang bekerja di dalam timbunan itu), tidak akan berbiak secara wajar. Akibatnya, pembuatan kompos akan berlangsung lebih lama.
Sebaliknya timbunan yang terlampau tinggi, malah bisa mengakibatkan material itu memadat karena berat bahan kompos itu sendiri. Dan ini akan mengakibatkan suhu terlewat tinggi dan udara di dasar timbunan berkurang. Panas yang terlalu banyak juga akan menyebabkan terbunuhnya bakteri yang diinginkan. Sedangkan apabila kekurangan udara mengakibatkan tumbuhnya bakteri anaerobik yang baunya tidak enak.
Suhu bahan biasanya berkisar di sekitar 60°C. Apabila tumpukan telah berumur 14 hari, suhunya akan menurun (kurang dari 60°C). Pada saat ini sisi tumpukan perlu ditutup dengan tanah.
Tempatnya perlu agak tinggi sehingga tidak terjadi genangan air di tempat kompos ini dibuat. Lubang dapat dibuat sedalam 1 m, dan lebarnya 2 m sampai 3 m, sedangkan panjangnya dapat sekehendak kita.
Dalam cuaca apapun, suhu udara terbuka tidak akan mempengaruhi penjagaan panas dalam timbunan yang ukurannya baik. Jadi pembuatan kompos dapat dikerjakan sepanjang musim.
3. Pengaruh Nitrogen (N)
Timbunan yang bernitrogen terlalu sedikit (zat yang dibutuhkan bakteri penghancur untuk tumbuh dan berbiak) tidak akan menghasilkan panas untuk membusukkan material dengan cepat. Tetapi, kadar karbon/nitrogen yang tinggi bisa menyebabkan timbunan itu membusuk pelan-pelan lewat kerja zat-zat organik suhu rendah (kebanyakan jamur).
Ini berarti bahwa pembuatan kompos dari bahan-bahan keras seperti kulit biji-bijian yang keras dan berkayu, tanaman menjalar atau pangkasan-pangkasan pohon (semua dengan kadar tinggi C/N) harus kita campur dengan bahan-bahan yang berair. Misalnya dengan pangkasan daun dari kebun dan sampah-sampah yang lunak. Ini untuk sumber nitrogen, guna memudahkan pembusukan, kita bisa menambahnya dengan berbagai pupuk organik.
4. Kelembaban
Timbunan kompos harus selalu lembab, tetapi kita perlu menjaganya supaya tidak sampai becek. Karena kelebihan air akan mengakibatkan volume udara jadi berkurang. Semakin basah timbunan itu, makin sering pula kita harus mengaduknya untuk menjaga dan mencegah pembiakan bakteri anaerobik.
Kalau timbunan itu betul-betul menjadi terlampau basah dan anaerobik bakteri mulai tumbuh, pengadukan yang dilakukan tiap hari akan bisa mengembalikan kepada keadaannya yang normal.
5. Bak penampungan
Bak penampungan bisa terbuat dari bahan kayu.
6. Pengadukan
Ada beberapa tujuan dalam pengadukan kompos. Selama beberapa minggu pada awal masa pembusukan, timbunan itu mulai mampat dan kehilangan sedikit peranginan yang diperlukan untuk proses pembusukan. Dengan mengaduk timbunan itu, kita bisa menguraikan bahan-bahan yang mampat dan menambahkan lebih banyak udara padanya.
Apabila timbunan terlampau basah, pengadukan akan memberikan banyak udara. Maka bisa sedikit mengeringkan bahan itu. Dan bakteri anaerobik pun tidak muncul.
Pengadukan juga bisa memberikan kesempatan pada kita untuk menyusun kembali bahan yang sedang membusuk itu. Bagian luar yang kurang busuk dipindahkan di tengah timbunan hingga bakteri-bakteri suhu tinggi akan mulai bekerja lagi. Timbunan akan kembali menjadi panas dengan lebih cepat, dan ketika suhu menurun lagi, proses pengomposan telah selesai dan kompos pun telah siap dipakai.
Hal-hal penting yang perlu kita perhatikan dalam pembuatan kompos yaitu sebagai berikut :
1. Buat campuran kotoran ternak dengan air.
2. Buat satu lapisan sisa-sisa tanaman, pupuk hijau, sisa makanan ternak, dsb., setebal 15 cm, dan siram dengan air hanya untuk melembabkan bahan tersebut (hindarkan penyiraman ini dari kelebihan air).
3. Tutup lapisan ini diatasnya dengan tanah bercampur kencing ternak dan larutan kotoran ternak tersebut.
4. Tambahkan 5-10 kg superfosfat untuk setiap 10 ton bahan (untuk mendapatkan ratio N:P dalam perbandingan yang baik).
5. Ulangi proses ini sehingga lubang ini penuh.
6. Kemudian tutup lubang ini dengan campuran tanah dan kencing ternak, sisa makanan ternak, dan dengan tanah, sehingga permukaan gundukan kompos ini berbentuk cembung (konveks) dengan ketinggian 15-20 cm dari permukaan tanah agar air hujan dapat mengalir keluar.
7. Kompos akan siap (matang) untuk digunakan setelah 3 bulan.


2. Pupuk Anorganik, yakni pupuk dari senyawa anorganik. Hamper semua pupuk batuan termasuk ke dalam pupuk anorganik.
Pupuk an-organik yang beredar terdiri dari pupuk tunggal dan majemuk.
a. Pupuk Makro an-organik
Terdiri atas : pupuk makro tunggal padat, makro majemuk padat, makro tunggal cair dan makro majemuk cair. Syarat teknis minimal pupuk makro an-organik diuraikan sebagai berikut :Tabel. Syarat teknis minimal pupuk makro an-organik

b. Pupuk Mikro an-organik
Terdiri atas : pupuk mikro tunggal padat, mikro majemuk padat dan mikro majemuk cair.
Syarat teknis minimal pupuk mikro an-organik diuraikan sebagai berikut :
Tabel. Syarat teknis minimal pupuk mikro an-organik


Petani umumnya lebih biasa menggunakan pupuk tunggal, yaitu pupuk yang hanya mengandung satu jenis hara saja. Misalnya, Urea hanya mengandung hara nitrogen (N). SP-36 hanya dipentingkan fosfat (P)-nya saja, tapi sebetulnya juga mengandung sulfur (S). Atau KCl yang diutamakan sebagai sumber kalium (K). Untuk mencukupi kebutuhan tanaman, petani pemakai pupuk tunggal tentu saja haru menyediakan paling tidak tiga macam pupuk, Urea atau ZA, SP-36, dan KCl atau KNO3. Sedangkan pengguna pupuk majemuk tinggal membeli satu macam pupuk saja, misal NPK. Dari sisi ketersediaan di pasar, pupuk tunggal khususnya Urea yang bersubsidi sering menghilang. Jadi, petani tidak lengkap memasok tanamannya. Apalagi dengan dicabutnya subsidi terhadap pupuk KCl sehingga harganya bisa mencapai Rp6.500—Rp7.000 per kg, semakin kuranglah sumber K bagi tanaman. Namun demikian pupuk tunggal mempunyai nilai plus bisa diramu sendiri oleh petani sesuai kebutuhan lahan dan tanamannya. Misalnya, akan membuat NPK dengan komposisi 15 : 15 : 15. Bila kandungan N, P, K pada Urea, TSP, KCl masing-masing 46%, 46%, dan 60%, maka petani membeli 33 kg Urea, 33 kg TSP, dan 25 kg KCl. Melihat sisi negatif pupuk tunggal, petani didorong untuk mengaplikasikan pupuk majemuk. Menurut Sutisna Sintaatmadja, Penanggung Jawab Produksi NPK di PT Pupuk Kujang, pupuk majemuk, khususnya NPK, menawarkan sejumlah kelebihan dibandingkan pupuk tunggal. Lebih mudah aplikasinya; lebih lengkap dan seimbang kandungan unsur haranya, lebih seragam penyebaran unsur haranya; lebih efisien penggunaannya; lebih efisien dalam penggunaan tenaga kerja dan waktu; serta lebih mudah pengadaan dan penyimpanannya.

Jenis pupuk Anorganik
(1) PHONSKA a. pupuk majemuk NPK
Agar tanaman dapat tumbuh dengan baik dan menghasilkan produksi yang tinggi, diperlukan unsur hara atau makanan yang cukup. Unsur hara utama yang dibutuhkan tanaman adalah Nitrogen (N) Fosfor (P) dan Kalium (K). tidak terpenuhinya salah satu unsur hara tersebut akan mengakibatkan menurunya kwalitas dan kwantitas hasil produksi pertanian.
Unsur hara N,P dan K didalam tanah tidak cukup tersedia dan terus berkurang karena diambil untuk pertumbuhan tanaman dan terangkut pada waktu panen tercuci, menguap, dan erosi. Untuk mencukupi kekurangan unsur hara N , P, dan K perlu dilakukan pemupukan.

[Part 1] Pupuk dan Jenisnya ^^

2.1 PENGERTIAN PUPUK
Dalam arti luas pupuk adalah suatu bahan yang mengubah sifat fisik, kimia, atau biologi tanah sehingga lebih baik bagi pertumbuhan tanaman. Misalnya, pemberian bahan kapur agar tanah dengan pH rendah menjadi meningkat pH-nya, pemberian urea dalam tanah yang miskin agar meningkatkan kadar N. dari hal itu maka kapur dan urea disebut pupuk.
Dalam pengertian khusus, pupuk adalah suatu bahan yang mengandung satu atau lebih hara tanaman. Dengan pengertian ini, kegiatan tersebut di atas hanya urea yang dianggap sebagai pupuk karena bahan tersebut yang mengandung unsur hara tanaman yakni nitrogen.

2.2 JENIS-JENIS PUPUK
A. Berdasarkan jumlah hara yang dikandungnya:
1. Pupuk Tunggal, adalah pupuk yang mengandung satu unsur hara yang diperlukan oleh tanaman contohnya adalah : Urea, ZA, ASN, SP-36, KCl dan ZK. Urea hanya mengandung hara nitrogen (N). SP-36 hanya dipentingkan fosfat (P)-nya saja, tapi sebetulnya juga mengandung sulfur (S). Atau KCl yang diutamakan sebagai sumber kalium (K). Komposisi unsur pada pupuk tunggal untuk memenuhi kebutuhan tanaman dapat diatur, sedangkan majemuk lebih sukar. 2. Pupuk Majemuk, adalah pupuk yang mengandung lebih dari satu unsur hara misalnya NPK. Pupuk majemuk mengandung lebih dari satu jenis unsur. Misalnya DAP dan Amofos yang terbuat dari N dan P. Pupuk majemuk juga bisa tersusun dari 3 unsur. Sebut juga Rustica Yellow dan Mutiara. Kedua pupuk itu dilengkapi dengan kandungan N , P , dan K. Produsen pupuk biasanya jgua menambahkan unsur-unsur mikro seperti Fe , B , Mo , Mn , dan Cu.
Agar praktis , pekebun biasanya memakai pupuk majemuk. Umumnya di pasaran beredar pupuk dengan kandungan utama Nitrogen , fosfor , dan kalium dengan berbagai perbandingan. Besar kecilnya perbandingan itu dicantumkan di label kemasan. Tulisan 20:10:10 artinya kandungan nitrogen paling tinggi sehingga tepat digunakan untuk masa pertumbuhan. Bagi tanaman setahun, penggunaan lebih banyak dari pada pupuk tunggal, karena aspek-aspek pembiayaan belum dikaji secara mendalam, tidak seperti halnya pada perkebunan yang berorientasi pada keuntungan.
B. Berdasarkan macam hara tanaman
1. Pupuk Makro
Unsur hara makro berisi hara yang diperlukan tanaman dalam jumlah banyak. Namun , tidak berarti jumlah yang diberikan tak terbatas. Ada ambang tertentu yang ditoleransi tanaman. Melebihi batas itu , tanaman mengalami keracunan yang bisa berlanjut hingga mati.
Ada 12 jenis unsur kimia yang diperlukan untuk pertumbuhan tanaman. Unsur itu adalah nitrogen (N) , fosfor (P) , kalium (K) , magnesium (Mg) , sulfur (S) , dan kalsium (Ca) , boron (B) , besi (Fe) , tembaga (Cu) , mangan (Mn) , seng (ZN) , dan molibdenum (Mo). Setiap unsur memiliki pengaruh penting dalam pertumbuhan tanaman.
Kebutuhan tanaman akan masing-masing unsur berlainan. Tergantung pada umur, jenis, dan lingkungan. Unsur hara tersebut diantaranya:
a. Nitrogen (N)
Nitrogen berperan dalam pembentukan sel , jaringan , dan organ tanaman. Ia berfungsi sebagai sebagai bahan sintetis klorofil , protein , dan asam amino. Karena itu kehadirannya dibutuhkan dalam jumlah besar , terutama saat pertumbuhan vegetatif. Bersama fosfor (P) , nitrogen digunakan untuk mengatur pertumbuhan tanaman secara keseluruhan.
Terdapat 2 bentuk nitrogen yakni amonium dan nitrat. Sejumlah penelitian membuktikan amonium sebaiknya tidak lebih dari 25% dari total konsentrasi nitrogen. Jika berlebihan , sosok tanaman bongsor tetapi rentan terhadap serangan penyakit. Nitrogen yang berasal dari amonium akan memperlambat pertumbuhan karena mengikat karbohidrat sehingga pasokan sedikit. Dengan demikian cadangan makanan sebagai modal berbunga juga minimal. Akibatnya tanaman tidak mampu berbunga. Seandainya yang dominan adalah nitrogen bentuk nitrat , maka sel-sel tanaman akan kompak dan kuat sehingga lebih tahan penyakit. Untuk mengetahui kandungan N dan bentuk nitrogen dari pupuk bisa dilihat dari kemasan
Gejala kekurangan
Tanaman yang kekurangan nitrogen dikenali dari daun bagian bawah. Daun itu menguning karena kekurangan klorofil. Lebih lanjut mengering dan rontok. Tulang-tulang di bawah permukaan daun muda tampak pucat. Pertumbuhan tanaman lambat , kerdil dan lemah. Produksi bunga dan biji rendah.
Kelebihan
Warna daun terlalu hijau , tanaman rimbun dengan daun. Proses pembuangan menjadi lama. Adenium bakal bersifat sekulen karena mengandung banyak air. Hal itu menyebebkan rentan serangan cendawan dan penyakit , dan mudah roboh. Produksi bunga menurun.
b. Fosfor (P)
Fosfor merupakan komponen penyusun beberapa enzim , protein , ATP , RNA , dan DNA. ATP penting untuk proses transfer energi , sedangkan RNA dan DNA menentukan sifat genetik tanaman. Unsur P juga berperan pada pertumbuhan benih , akar , bunga , dan buah. Dengan membaiknya struktur perakaran sehingga daya serap nutrisi pun lebih baik.
Bersama dengan kalium , fosfor dipakai untuk merangsang pembungaan. Hal itu wajar sebab kebutuhan tanaman terhadap fosfor meningkat tinggi ketika tanaman akan berbunga.
Kekurangan
Dimulai dari daun tua menjadi keunguan cenderung kelabu. Tepi daun cokelat , tulang daun muda berwarna hijau gelap. Hangus , pertumbuhan daun kecil , kerdil , dan akhirnya rontok. Fase pertumbuhan lambat dan tanaman kerdil.
Kelebihan
Kelebihan P menyebabkan penyerapan unsur lain terutama unsur mikro seperti besi (Fe) , tembaga(Cu) , dan seng(Zn) terganggu. Namun gejalanya tidak terlihat secara fisik pada tanaman.
c. Kalium (K)
Kalium berperan sebagai pengatur proses fisiologi tanaman seperti fotosintetis , akumulasi , translokasi , transportasi karbohidrat , membuka menutupnya stomata , atau mengatur distribusi air dalam jaringan dan sel. Kekurangan unsur ini menyebabkan daun seperti terbakardan akhirnya gugur.
Unsur kalium berhubungan erat dengan kalsium dan magnesium. Ada sifat antagonisme antara kalium dan kalsium. Dan juga antara kalium dan magnesium. Sifat antagonisme ini menyebabkan kekalahan salah satu unsur untuk diserap tanaman jika komposisinya tidak seimbang. Unsur kalium diserap lebih cepat oleh tanaman dibandingkan kalsium dan magnesium. Jika unsur kalium berlebih gejalanya sama dengan kekurangan magnesium. Sebab , sifat antagonisme antara kalium dan magnesium lebih besar daripada sifat antagonisme antara kalium dan kalsium. Kendati demkian , pada beberapa kasus , kelebihan kalium gejalanya mirip tanaman kekurangan kalsium.
Kekurangan
Kekurangan K terlihat dari daun paling bawah yang kering atau ada bercak hangus. Bunga mudah rontok. Tepi daun ‘hangus’ , daun menggulung ke bawah , dan rentan terhadap serangan penyakit.
Kelebihan
Kelebihan K menyebabkan penyerapan Ca dan Mg terganggu. Pertumbuhan tanaman terhambat. sehingga tanaman mengalami defisiensi.
d. Magnesium (Mg)
Magnesium adalah aktivator yang berperan dalam transportasi energi beberapa enzim di dalam tanaman. Unsur ini sangat dominan keberadaannya di daun , terutama untuk ketersediaan klorofil. Jadi kecukupan magnesium sangat diperlukan untuk memperlancar proses fotosintesis. Unsur itu juga merupakan komponen inti pembentukan klorofil dan enzim di berbagai proses sintesis protein.
Kekurangan magnesium menyebabkan sejumlah unsur tidak terangkut karena energi yang tersedia sedikit. Yang terbawa hanyalah unsur berbobot ‘ringan’ seperti nitrogen. Akibatnya terbentuk sel-sel berukuran besar tetapi encer. Jaringan menjadi lemah dan jarak antarruas panjang. Ciri-ciri persis seperti gejala etiolasi-kekurangan cahaya pada tanaman.
Gejala Kekurangan
Muncul bercak-bercak kuningdi permukaan daun tua. Hal ini terjadi karena Mg diangkut ke daun muda. Daun tua menjadi lemahd dan akhirnya mudah terserang penyakit , terutama embun tepung (powdery mildew).
Kelebihan
Kelebihan Mg tidak menimbulkan gejala ekstrim.
e. Kalsium (Ca)
Unsur ini yang paling berperan adalah pertumbuhan sel. Ia komponen yang menguatkan , dan mengatur daya tembus , serta merawat dinding sel. Perannya sangat penting pada titik tumbuh akar. Bahkan bila terjadi defiensi Ca , pembentukan dan pertumbuhan akar terganggu , dan berakibat penyerapan hara terhambat. Ca berperan dalam proses pembelahan dan perpanjangan sel , dan mengatur distribusi hasil fotosintesis.
Kekurangan
Gejala kekurangan kalsium yaitu titik tumbuh lemah , terjadi perubahan bentuk daun , mengeriting , kecil , dan akhirnya rontok. Kalsium menyebabkan tanaman tinggi tetapi tidak kekar. Karena berefek langsung pada titik tumbuh maka kekurangan unsur ini menyebabkan produksi bunga terhambat. Bunga gugur juga efek kekurangan kalsium.
Kelebihan
Kelebihan kalsium tidak berefek banyak , hanya mempengaruhi pH tanah.

2. Pupuk Mikro
Unsur mikro adalah unsur yang diperlukan tanaman dalam jumlah sedikit . Walaupun hanya diserap dalam jumlah kecil , tetapi amat penting untuk menunjang keberhasilan proses-proses dalam tumbuhan. Tanpa unsur mikro , bunga adenium tidak tampil prima. Bunga akan lunglai , dll. Unsur mikro itu , adalah: boron, besi, tembaga, mangan, seng, dan molibdenum. a. Boron (B)
Boron memiliki kaitan erat dengan proses pembentukan , pembelahan dan diferensiasi , dan pembagian tugas sel. Hal ini terkait dengan perannya dalam sintetis RNA , bahan dasar pembentukan sel. Boron diangkut dari akar ke tajuk tanaman melalui pembuluh xylem. Di dalam tanah boron tersedia dalam jumlah terbatas dan mudah tercuci. Kekurangan boron paling sering dijumpai pada adenium. Cirinya mirip daun variegeta. Kekurangan
Daun berwarna lebih gelap dibanding daun normal , tebal , dan mengkerut. Kelebihan
Ujung daun kuning dan mengalami nekrosis b. Tembaga(Cu)
Fungsi penting tembaga adalah aktivator dan membawa beberapa enzim. Dia juga berperan membantu kelancaran proses fotosintesis. Pembentuk klorofil , dan berperan dalam funsi reproduksi. Kekurangan
Daun berwarna hijau kebiruan , tunas daun menguncup dan tumbuh kecil , pertumbuhan bunga terhambat. Kelebihan
Tanaman tumbuh kerdil , percabangan terbatas , pembentukan akar terhambat , akar menebal dan berwarna gelap. c. Seng(Zn)
Hampir mirip dengan Mn dan Mg , sengat berperan dalam aktivator enzim , pembentukan klorofil dan membantu proses fotosintesis. Kekurangan biasanya terjadi pada media yang sudah lama digunakan. Kekurangan
Pertumbuhan lambat , jarak antar buku pendek , daun kerdil , mengkerut , atau menggulung di satu sisi lalu disusul dengan kerontokan. Bakal buah menguning , terbuka, dan akhirnya gugur. Buah pun akan lebih lemas dan sehingga buah yang seharusnya lurus membengkok. Kelebihan
Kelebihan seng tidak menunjukkan dampak nyata.
d. Besi (Fe)
Besi berperan dalam proses pembentukan protein , sebagai katalisator pembentukan klorofil. Besi berperan sebagai pembawa elektron pada proses fotosintetis dan respirasi , sekaligus menjadi aktivator beberapa enzim. Unsur ini tidak mudah bergerak sehigga bila terjadi kekurangan sulit diperbaiki. Fe paling sering bertentanganatau antagonis dengan unsur mikro lain. Untuk mengurangi efek itu , maka Fe sering dibungkus dengan Kelat (chelate) seperti EDTA (Ethylene Diamine Tetra-acetic Acid). EDTA adalah suatu komponen organik yang bersifat menstabilkan ion metal. Adanya EDTA maka sifat antagonis Fe pada pH tinggi berkurang jauh. Di pasaran dijumpai dengan merek Fe-EDTA.
Kekurangan
Kekurangan besi ditunjukkan dengan gejala klorosis dan daun menguning atau nekrosa. Daun muda tampak putih karena kurang klorofil. Selain itu terjadi karena kerusakan akar. Jika adenium dikeluarkan dari potnya akan terlihat potongan-potongan akar yang mati.
Kelebihan
Pemberian pupuk dengan kandungan Fe tinggi menyebabkan nekrosis yang ditandai dengan munculnya bintik-bintik hitam pada daun.
f. Molibdenum(Mo)
Mo bertugas sebagai pembawa elektron untuk mengubah nitrat menjadi enzim. Unsur ini juga berperan dalam fiksasi nitrogen.
Kekurangan
Ditunjukkan dengan munculnya klorosis di daun tua , kemudian menjalar ke daun muda
Kelebihan
Kelebihan tidak menunjukkan gejala yang nyata pada adenium.

[Part 3] Sifat-Sifat Koloid

Coba perhatikan gambar di bawah ini!



Dari tiga macam sistem dispersi tersebut, tunjukkan manakah larutan, koloid, dan suspensi??
Apa yang menyebabkan koloid memiliki sifat yang berbeda dari larutan dan suspensi??


A. Gerak Brown
Gerakan terpatah-patah (gerak zig-zag) yang terus menerus dalam koloid disebut gerak Brown. Gerak zig-zag ini disebut gerak Brown karena sesuai dengan nama penemunya Robert Brown seorang ahli biologi Skotlandia tahun 1872.
Gerak Brown terjadi sebagai akibat adanya tumbukan dari molekul-molekul pendispersi terhadap partikel terdispersi, sehingga partikel terdispersi akan terlontar. Lontaran tersebut akan mengakibatkan partikel terdispersi menumbuk partikel terdispersi yang lain dan akibatnya partikel yang tertumbuk akan terlontar. Peristiwa ini terjadi terus menerus yang diakibatkan karena ukuran partikel yang terdispersi relatif besar dibandingkan medium pendispersinya.

Gerak ini dipengaruhi oleh ukuran partikel dan suhu. Gerak ini akan makin cepat jika ukuran partikel koloid makin kecil atau suhunya makin tinggi.
Gerak Brown merupakan salah satu faktor yang menstabilkan koloid. Oleh karena bergerak terus-menerus, maka partikel koloid dapat mengimbangi gaya gravitasi, sehingga tidak mengalami sedimentasi. Data tersebut hasil perhitungan Robert Brown yang dibuat dalam bentuk skala pada jarak tertentu.

 
B. Efek Tyndall

Bagaimanakah kita dapat mengenali suatu koloid? Kita dapat mengenalinya dengan cara melewatkan seberkas cahaya (sinar) kepada obyek yang akan kita kenali yang kita kenal dengan sebutan Efek Tyndall. Gejala ini pertama kali dipelajari oleh John Tyndall, ahli fisika bangsa inggris pada tahun 1869. Tyndall menemukan bahwa apabila suatu berkas cahaya dilewatkan pada koloid maka berkas cahaya tadi akan tampak. Tetapi apabila berkas cahaya yang sama dilewatkan pada dilewatkan pada larutan sejati, berkas cahaya tadi tidak akan tampak.
Efek Tyndall adalah suatu efek penghamburan berkas sinar oleh partikel-partikel yang terdapat dalam koloid, sehingga jalannya berkas sinar terlihat.



Gambar Efek Tyndall
Pengamatan mengenai efek Tyndall dapat dilihat pada gambar
Bila dilihat tegak lurus dari arah datangnya cahaya, maka akan terlihat sebagai berikut :
1. Jika obyek adalah larutan, maka cahaya akan diteruskan (transparan).
2. Jika obyek adalah koloid, maka cahaya akan dihamburkan dan partikel terdispersinya
tidak tampak.
3. Jika obyek adalah suspensi, maka cahaya akan dihamburkan tetapi partikel
terdispersinya dapat terlihat kelihatan.
Terhamburnya cahaya oleh partikel koloid disebut efek Tyndall. Partikel koloid dan suspensi cukup besar untuk dapat menghamburkan sinar, sedangkan partikel-partikel larutan berukuran sangat kecil sehingga tidak dapat menghamburkan cahaya. Dalam kehidupan sehari-hari, efek Tyndall dapat kita amati antara lain pada:
1. Sorot lampu proyektor dalam gedung bioskop yang berasap dan berdebu
2. Sorot lampu mobil pada malam yang berkabut
3. Berkas sinar matahari melalui celah daun pohon-pohon pada pagi hari yang berkabut.
Efek Tyndall dapat menerangkan mengapa langit pada siang hari berwarna biru, sedangkan ketika matahari terbenam langit di ufuk barat berwarna jingga atau merah. Hal itu disebabkan oleh penghamburan cahaya matahari oleh partikel koloid di angkasa, dan tidak semua frekuensi dari sinar matahari dihamburkan dengan intensitas yang sama. Oleh karena intensitas cahaya yang dihamburkan berbanding lurus dengan frekuensi, maka ketika matahari melintas di atas kita frekuensi paling tinggilah yang banyak sampai ke mata kita, sehingga kita melihat langit berwarna biru. Ketika matahari terbenam, hamburan frekuensi rendah lebih banyak, sehingga kita menyaksikan langit berwarna jingga atau merah.


Cahaya matahari yang masuk melalui sela-sela pepohonan akan tampak dengan nyata sebab cahaya itu dihamburkan oleh partikel kabut yang merupakan suatu koloid.
B. Adsorpsi
Partikel koloid mempunyai kemampuan menyerap ion atau muatan listrik pada permukaannya. Oleh karena itu, partikel koloid menjadi bermuatan listrik. Penyerapan pada permukaan disebut adsorpsi, jika penyerapan sampai ke bawah permukaan disebut absorpsi. Kemampuan menarik ini disebabkan adanya tegangan permukaan koloid yang cukup tinggi, sehingga apabila ada partikel yang menempel akan canderung dipertahankan pada permukaannya. Bila partikel koloid mengadsorpsi ion yang bermuatan positif, maka koloid tersebut menjadi bermuatan positif, dan sebaliknya. Muatan koloid merupakan faktor yang menstabilkan koloid, disamping gerak Brown. Karena partikel-partikel koloid bermuatan sejenis maka akan saling tolak menolak sehingga terhindar dari pengelompokan antar sesama partikel koloid itu (jika partikel koloid itu saling bertumbukan dan kemudian bersatu, maka lama kelamaan terbentuk partikel yang cukup besar dan akhirnya akan mengendap).


Selain dari ion, partikel koloid juga dapat menarik muatan dari listrik statis, karena adanya peristiwa adsorpsi partikel koloid bermuatan listrik, maka jika koloid diletakkan dalam medan listrik, partikelnya akan bergerak menuju kutub yang muatannya berlawanan dengan muatan koloid tersebut.
Antara partikel koloid dengan ion-ion yang diadsorpsi akan membentuk beberapa lapisan, yaitu :
• Lapisan pertama ialah lapisan inti yang bersifat netral, terdiri atas partikel koloid netral.
• Lapisan ion dalam ialah lapisan ion-ion yang diadsorpsi oleh koloid
• Lapisan ion luar

C. Elektroforesis
Partikel koloid dapat bergerak dalam medan listrik. Hal ini menunjukkan bahwa partikel koloid tersebut bermuatan. Pergerakan partikel koloid dalam medan listrik ini disebut elektroforesis. Partikel-partikel koloid yang bermuatan dengan bantuan arus listrik akan mengalir ke masing-masing elektroda yang bermuatannya berlawanan. Koloid bermuatan negatif akan bergerak ke anoda (elektro positif), sedangkan koloid yang bermuatan positif bergerak ke katoda (elektroda negatif). Dengan demikian elektroforesis dapat digunakan untuk menentukan jenis muatan koloid.
 
E. Koagulasi
Koagulasi adalah penggumpalan partikel koloid sehingga terjadi endapan. Dengan terjadinya koagulasi, zat terdispersi tidak lagi membentuk koloid. Suatu koloid distabilkan oleh muatannya. Apabila muatan koloid dilucuti, maka kestabilannya akan berkurang dan dapat menyebabkan koagulasi atau penggumpalan. Koagulasi atau penggumpalan dapat disebabkan oleh adanya pemanasan atau pendinginan. Pelucutan muatan koloid dapat terjadi pada sel elektroforesis atau jika elektrolit ditambahkan ke dalam koloid. Pada elektroforesis, koagulasi terjadi ketika partikel koloid mencapai elektroda. Jadi, koloid yang bermuatan negatif akan digumpalkan di anoda, sedangkan koloid yang bermuatan positif digumpalkan di katoda.
Adapun koagulasi koloid karena penambahan elektrolit terjadi sebagai berikut. Koloid yang bermuatan negatif akan menarik ion positif (kation), sedangkan koloid yang bermuatan positif akan menarik ion negatif (anion). Ion-ion tersebut akan membentuk selubung lapisan kedua. Apabila selubung lapisan kedua itu terlalu dekat, maka selubung itu akan menetralkan muatan koloid, sehingga terjadi koagulasi. Semakin besar muatan ion, semakin kuat daya tarik-menariknya dengan partikel koloid, sehingga semakin cepat terjadi koagulasi.


Penghilangan muatan listrik pada partikel koloid dapat dilakukan dengan tiga cara, yaitu :
• Menggunakan prinsip elektrolisis
Proses elektroforesis adalah pergerakan partikel-partikel koloid yang bermuatan ke elektrode dengan muatan berlawanan. Ketika partikel-partikel ini mencapai elektrode, maka partikel-partikel tersebut akan kehilangan muatannya sehingga menggumpal dan mengendap di elektrode.
• Penambahan koloid lain dengan muatan berlawanan
Apabila suatu koloid ditambahkan koloid lain dengan muatan berlawanan, maka kedua koloid tersebut akan saling mengadsorpsi dan menjadi netral. Akibatnya, terbentuk koagulasi.
• Penambahan elektrolit
Jika suatu elektrolit ditambahkan ke dalam koloid, maka partikel-partikel koloid yang bermuatan negatif akan menarik ion positif (kation) dari elektrolit. Sementara itu, partikel-partikel koloid yang bermuatan positif akan menarik ion negatif (anion) dari elektrolit. Hal ini menyebabkan partikel-partikel koloid tersebut dikelilingi oleh lapisan kedua yang memiliki muatan berlawanan dengan muatan lapisan pertama. Apabila jarak antara lapisan pertama dan kedua cukup dekat, maka muatan keduanya akan hilang sehingga terjadi koagulasi.

Sol Fe(OH)3 bermuatan positif yang dikelilingi oleh ion-ion negative Cl- atau PO43- akan kehilangan muatannya. Oleh karena ion PO43- memiliki muatan yang lebih besar dibandingkan Cl-, maka ion PO43- lebih efektif untuk menghilangkan muatan koloid. Hal ini ditunjukkan oleh jumlah molekul ion PO43- yang lebih sedikit di sekeliling Fe(OH)3 dibanding jumlah Cl-.

F. Koloid Pelindung
Koloid pelindung adalah koloid yang dapat melindungi/menstabilkan koloid lain dari proses koagulasi atau penggumpalan. Koloid pelindung akan membungkus partikel zat terdispersi sehingga tidak dapat lagi menggumpal. Koloid pelindung sering digunakan diantaranya pada koloid tinta, cat, dan es krim. Koloid pelindung yang berfungsi untuk menstabilkan emulsi disebut emulgator, misalnya susu yang merupakan emulsi lemak-air, emulgatornya adalah kasein. Demikian juga pada santan dan lateks, sedangkan emulgator antara minyak dan air adalah sabun dan detergen. Koloid ini akan membungkus partikel zat terdispersi, sehingga tidak dapat lagi mengelompok.
G. Koloid Liofil dan Liofob
Umumnya terjadi pada koloid yang fase terdispersinya padatan dan mediumnya cairan atau berupa sol, sehingga lebih dikenal sebagai sol liofil atau sol liofob.
Liofil berasal dari bahasa Yunani yang tersusun dari kata lio yang berarti cairan dan fil yang berarti suka. Jadi, Sol liofil adalah sol dimana fase terdispersinya suka akan medium pendispersinya (suka akan cairan) atau dapat dikatakan juga sol yang afinitas atau gaya tarik-menarik antara fase terdispersi terhadap mediumnya sangat kuat.
Liofob berasal dari bahasa Yunani yang tersusun dari kata lio yang berarti cairan dan fob yang berarti benci. Jadi, sol liofob adalah kebalikan dari sol liofil, yaitu sol dimana partikel fase terdispersinya kurang/tidak suka akan cairannya (mediumnya) karena gaya tarik-menarik antara fase terdispersi terhadap mediumnya tidak ada atau sangat lemah.
Jika medium pendispersi yang digunakan adalah air, maka kedua jenis koloid di atas masing-masing disebut koloid hidrofil (suka air) dan koloid hidrofob (takut air). Berikut ini adalah beberapa contoh dari koloid hidrofil dan koloid hidrofob.
Contoh :
Koloid Hidrofil : sabun colek, deterjen, agar-agar, kanji, dan gelatin.
Koloid Hidrofob : air diatas daun talas dan belerang dalam air.

[Part 2] Koloid ada di sekitar kita~~~ macam-macamnya

Koloid mudah dijumpai di mana-mana: susu, agar-agar, tinta, sampo, serta awan merupakan contoh-contoh koloid yang dpat dijumpai sehari-hari. Sitoplasma dalam sel juga merupakan sistem koloid. Kimia koloid menjadi kajian tersendiri dalam kimia industri karena kepentingannya.

Berdasarkan fasa terdispersinya, sistem koloid dapat dikelompokkan menjadi 3, yaitu:
1. Sol (fase terdispersi padat)
a. Sol padat adalah sol dalam medium pendispersi padat
Contoh: paduan logam, gelas warna, intan hitam


b. Sol cair adalah sol dalam medium pendispersi cair
Contoh: cat, tinta, tepung dalam air, tanah liat


c. Sol gas adalah sol dalam medium pendispersi gas
Contoh: debu di udara, asap pembakaran



2. Emulsi (fase terdispersi cair)
a. Emulsi padat adalah emulsi dalam medium pendispersi padat
Gel adalah emulsi dalam medium pendispersi zat padat, dapat juga dianggap sebagai hasil bentukkan dari penggumpalan sebagian sol cair. Partikel-partikel sol akan bergabung untuk membentuk suatu rantai panjang pada proses penggumpalan ini. Rantai tersebut akan saling bertaut sehingga membentuk suatu struktur padatan di mana medium pendispersi cair terperangkap dalam lubang-lubang struktur tersebut. Sehingga, terbentuklah suatu massa berpori yang semi-padat dengan struktur gel.
Contoh: Jelly, keju, mentega, nasi



b. Emulsi cair adalah emulsi dalam medium pendispersi cair
Emulsi cair melibatkan dua zat cair yang tercampur, tetapi tidak dapat saling melarutkan, dapat juga disebut zat cair polar dan zat cair non-polar. Biasanya salah satu zat cair ini adalah air (zat cair polar) dan zat lainnya; minyak (zat cair non-polar). Emulsi cair itu sendiri dapat digolongkan menjadi 2 jenis, yaitu; emulsi minyak dalam air (contoh: susu yang terdiri dari lemak yang terdispersi dalam air,jadi butiran minyak di dalam air), atau emulsi air dalam minyak (contoh: margarin yang terdiri dari air yang terdispersi dalam minyak, jadi butiran air dalam minyak).


c. Emulsi gas adalah emulsi dalam medium pendispersi gas.
Emulsi gas dapat disebut juga aerosol cair yang merupakan emulsi dalam medium pendispersi gas. Aerosol cair juga memiliki sifat-sifat seperti sol liofob; efek Tyndall, gerak Brown, dan kestabilan denganmuatan partikel.
Contoh: hairspray dan obat nyamuk, untuk dapat membentuk koloid atau menghasilkan semprot aerosol yang diperlukan, dibutuhkan bantuan bahan pendorong/ propelan aerosol, anatara lain CFC (klorofuorokarbon atau Freon).


d. Buih (fase terdispersi gas)
1. Buih padat adalah buih dalam medium pendispersi padat
Contoh: Batu apung, marshmallow, karet busa, dan Styrofoam.




2. Buih cair adalah buih dalam medium pendispersi cair
Contoh: putih telur yang dikocok, dan busa sabun
Untuk pengelompokan buih, jika fase terdispersi dan medium pendispersi sama- sama berupa gas, campurannya tergolong larutan

KOLOID ada di sekitar kita~~~ let's learn about it! Part 1








Dalam kehidupan sehari-hari, sering kita temui beberapa produk yang merupakan campuran dari beberapa zat, tetapi zat tersebut dapat bercampur secara merata/homogen. Misalnya saja cincau, sabun, sol belerang, dan nata de coco. Produk-produk seperti itu termasuk ke dalam campuran yang disebut koloid.
Apa yang dimaksud dengan koloid, bagaimana sifat-sifatnya, dan bagaimana pembuatannya?
Koloid banyak terdapat disekitar kita, contohnya yaitu lem, jelly, dan santan. Nama koloid diberikan oleh Thomas Graham pada tahun 1861. Istilah itu berasal dari bahasa Yunani, yaitu “kolla” dan “oid”. Kolla berarti lem, sedangkan oid berarti seperti. Dalam hal ini yang dikaitkan dengan lem adalah sifat difusinya, sebab koloid mempunyai nilai difusi yang rendah seperti lem. Koloid adalah suatu campuran zat homogen berisi partikel-partikel pada rentang ukuran dari 1nm sampai 1000nm tapi berbeda sifat dan tidak benar-benar larut dan berinteraksi. Partikel-partikel di dalam koloid tersebar diseluruh medium pendispersi. Brady, et al. (200:558); Wilbraham, et al. (2005).
Koloid perlu dipelajari karena berkaitan erat dengan hidup dan kehidupan kita sehari-hari. Cairan tubuh seperti darah, adalah koloid. Bahan makanan seperti susu, keju, nasi, roti adalah koloid. Cat, berbagai jenis obat, bahan kosmetik, dan tanah pertanian juga merupakan koloid.

Jumat, Februari 04, 2011

Struktur Lewis ^^

Yupz,, mau tahu lebih banyak dan mendetail mengenai struktur Lewis?? Kalian bisa melihat di

http://kimia.upi.edu/utama/bahanajar/kuliah_web/2009/0706614/

Ini adalah web pembelajaran yang aku buat waktu kuliah Pembelajaran Berbasis Web, dan Alhamdulillah aku dapat nilai A hehehehe~~

selamat belajar!

For my dearest friends Beauty Kingdom part 1


Ini ditunjukkan bagi seluruh sahabatku Beauty Kingdom ^^


1st for My best best best friend, Ran=D


bisa dikatakan ran adalah sahabat terdekatku di Bandung ini
haha pasti deh kalo ada yang nyariin ran, ada aja yang nanya aku (emang aq emaknya--")
yupzz~~ qt emang deket, apalagi sama2 suka HSJ, kalo di HSJ ada couple YamaJima nah buat kami yah jadi RaNia #maksa kagak sihh??? haha#

Yang jelas, arigatou gozaimasu ^^, hampir selalu jadi orang yang pertama yang bantuin aku, aku gak akan lupa bagaimana kmu nemenin aku pas lagi sakit sambil maksa-maksa makan, pdhal aku tahu kamu harus siap 2 ujian kan, kamu juga selalu enak diajak ngobrol apapun, walau sekarang aku gak terlalu addict sama JPOP kmu bisa nerima #yahh emang mau diributin# tp thx bget, kamu juga partner yang tepat diajak belajar sampe begadang gak tidur, partner jalan-jalan (?), sankyuu yah ^^

Lalu untuk my cutie friend, Vina


Vina , sahabatku yang bener2 keliatan kayak orang jawa #emang#,, haha,, si queen bee ini emang paling enak aq kerjain =DD,, kmu juga sahabat terbaikku, kmu orang yang bener-bener perhatian sama temen2 #apalagi sebelom ada a dadang#, makasih ya selalu bisa ngebuat aku tertawa, makasih udah sering sms aku jujur aku bukan org yang suka smsan jadi banyak sms yg ga aku bales #buka aib ?? wkwk#, enak deh kalo sama kmu,,, easy going dan pasti rame.


My lovely friend Ristong a.k. Risty


Ristonggg,,, aku sangaaatt senang ngegodain kamu hehehehehehe~~~
Ristu juga, kamu adalah sahabat baikku, seneng deh meluk (?) dia terus ngacak2 in kerudung dia,,
Risty selalu baik, aku sering ngegoda dia tapi dia gak pernah marah. dia juga perhatiaann banget sama temen-teman. Aku suka senyumnya hahahahahaha #tenang rist aku gak naksir wkwkwkwwkk# yang jelas kamu adalah sahabat baikku yang ga pernah pelit dan enak diajak ngobrol termasuk soal KPOP atau JPOP. Kamu juga satu-satunya di Beauty Kingdom yang tertarik sama Korean Language hehehehe,,, kapan2 qt belajar ya! Miss u friend <3

And then, Oh mY Princess,, dini sang princess ^^



Pengen deh manggil dini eonni, tapi mengingat mental age (?) qt sama, jadi tanpa basa-basi aku panggil dia dinong wkwkwkwkkw #peace princess qu#.
Dini itu bener2 sahabatku yang paling rameee dan suka cerita, gak pernah bosen deh kalau sama dia, dia juga pernah cerita yang sepertinya penting dan gak semua orang tahu, makasih ya din udah percaya sama aku. Love (?) u... hahahahhahaa
Yang jelas terima kasih karena sudah jadi sahabat baikku, maaf kalau n kadang terlalu cuek dan gak nanggapin kalau kamu lagi ngomong,, huhuuhuuhuuhu~~~~, kamu juga sangat perhatian ke aq,, makasihhh


beauty kingdom masi banyak, tenang ini baru part 1 ya, yang disebutin duluan bukan berarti aku lebih sayang mereka, aku sayang kalian ber 13, semuanya tanpa terkecuali ^^

Kamis, Februari 03, 2011

Chemistry Seminaring Paper

By : Dania Puri Oktaviani

Title : Quantitative Simultaneous Estimation of Water Soluble Vitamins, Riboflavin, Pyridoxine, Cyanocobalamin and Folic Acid in Neutraceutical Products by HPLC



ABSTRACT

Water soluble vitamins e.g. riboflavin (B2), pyridoxine (B6), cyanocobalamin (B12) and folic acid in neutraceutical product have been determined simultaneously by using a rapid, precise and time saving new high performance liquid chromatographic method and its validation. The method involves gradient elution of mobile phase through C18 discovery column (Supelco, Sigma-Aldrich) in a reverse phase chromatography with UV detection at 254 nm at ambient temperature. The ranges for quantification for B2, B6, B12 and folic acid were 0.13 mg g-1 (0.57-131 μg g-1), 0.235 mg g-1 (3-235 μg g-1), 7.94 x 10-2 mg g-1 (8-80 μg g-1) and 9.66 x10-2 mg g-1 (10-97μg g-1), respectively. For the validation of the method, linearity, precision, accuracy and robustness have been performed. The repeatability was measured in terms of RSD value. The RSD for all vitamins was below 1%. Recovery of vitamins ranges from 98.6 to 100.5%.

Key words : HPLC, riboflavin, pyridoxine, cyanocobalamin, folic acid

A. INTRODUCTION
Nutraceutical is a food or food product that provides health and medical benefits, including the prevention and treatment of disease. Such products may range from isolated nutrients, dietary supplements and specific diets. This products were considered alternative medicine for many years. Dietary suplements which is exist in neutaceutical products can be contains vitamins. Vitamins in general, play a very important role in our health, even though they only make up a very small part of the food we eat each day Diets which do not contain adequate amounts of these vitamins often result in deficiency diseases .
Nutraceuticals have become a more mainstream supplement to the diet, now that research has begun to show evidence that these chemicals found in food. And in this paper describes simultaneous estimation of water soluble vitamins, riboflavin, pyridoxine, cyaconobalamin and folic acid.
Vitamin B2 or pyridoxine is identified from eggs in a pure crystalline state and named ovovlavin in 1933 by Kuln and co-workers. Vitamin B2 is an easily absorbed micronutrient with a key role in maintaining health in humans and animals. It is the central component of the cofactors FAD and FMN, and is therefore required by all flavoproteins. As such, vitamin B2 is required for a wide variety of cellular processes. It plays a key role in energy metabolism, and for the metabolism of fats, ketone bodies, carbohydrates, and proteins. Milk, cheese, leafy green vegetables, liver, kidneys, legumes, tomatoes, yeast, mushrooms, and almonds are good sources of vitamin B2. Riboflavin can be assayed by chemical, microbiological, and biological methods. Both fluorometric and microbiological assays are official methods of the Association of Official Analytical Chemicals (AOAC). High performance liquid chromatography (HPLC) has been applied to the determination of riboflavin in a variety of foods by reverse-phase HPLC method. Its use as a column additive is approved by the Food and Drug Administration 21 CFR (73:450).
Pyridoxine is one of the compounds that can be called vitamin B6, along with pyridoxal and pyridoxamine The analysis Pyridoxine is not normally found in plants and plants are not the principal source of this vitamin. This vitamin is made by certain bacteria. Some vegetarians may get adequate pyridoxine simply from eating plants that have traces of soil (like potato skins). Most people get their supply of this vitamin from either milk or meat products. A very good source of pyridoxine is dragon fruit from South East Asia. Lack of pyridoxine may cause anemia, nerve damage, seizures, skin problems, and sores in the mouth. . The analysis of vitamin B6 in food is complicated by the fact that six forms (vitamers) are found in nature, therefore microbiological, colorimetric and HPLC methods are currently used.
Cyanocobalamin is an especially common vitamin of the vitamin B12 family. It is the most famous vitamer of the family, because it is, in chemical terms, the most air-stable. It is the easiest to crystallize and, therefore, easiest to purify after it is produced by bacterial fermentation. Cyanocobalamin is usually prescribed for the following reasons: after surgical removal of part or all of the stomach or intestine to ensure there are adequate levels of vitamin B12 in the bloodstream; to treat pernicious anemia; vitamin B12 deficiency due to low intake from food; thyrotoxicosis; hemorrhage; malignancy; liver or kidney disease. Cyanocobalamin injections are often prescribed to gastric bypass patients having had part of their small intestine bypassed, making it difficult for B12 to be absorbed via food or vitamins. Vitamin B12 can be determined by microbiological, radioisotope dilution spectrophotometric, chemical or biological methods.
Vitamin B9 (folic acid and folate inclusive) is essential to numerous bodily functions ranging from nucleotide biosynthesis to the remethylation of homocysteine. The human body needs folate to synthesize DNA, repair DNA, and methylate DNA as well as to act as a cofactor in biological reactions involving folate. Leafy vegetables are a principal source, although, in Western diets, fortified cereals and bread may be a larger dietary source. A lack of dietary folic acid leads to folate deficiency (FD). This can result in many health problems, the most notable one being neural tube defects in developing embryos. Methods for determining folic acid in food include biological, microbiological, chemical, chromatographic and radiometric assays
Analysis of water soluble vitamins B2, B12, folic acid, biotin and pantothenic acid based on biosensor-based vitamin analysis technology, this method is sensitive but did not analyze the vitamin B6 simultaneously. In another method simultaneous determination of seven water soluble vitamins nicotinamide, thiamin, riboflavin, pyridoxine, pyridoxal, pyridoxamine, cyanocobalamine and folic acid were carried out by using ion-pair chromatography. Nevertheless, the detection time is very high and the UV detector has to set at different wavelengths. Literature showed simultaneous determination of four B-group vitamins, B1, B3, B6 and B12 but B12 has been detected separately at 550 nm. In this paper, will be discussed a new method which simultaneously analyses four water soluble vitamins B6, folic acid, B12, and B2 in a complex mixture (neutraceutical) by HPLC.

B. Quantitative Simultaneous Estimation of Water Soluble Vitamins, Riboflavin, Pyridoxine, Cyanocobalamin and Folic Acid in Neutraceutical Products by HPLC
1. Literature Study
a. High Performance Liquid Chromatographic
High Performance Liquid Chromatography (HPLC) is one mode of chromatography, the most widely used analytical technique. HPLC utilizes a liquid mobile phase to separate the components of a mixture. These components (or analytes) are first dissolved in a solvent, and then forced to flow through a chromatographic column under a high pressure. In the column, the mixture is resolved into its components. The interaction on the solute with mobile and stationary phases can be manipulated through different choices of both solvents and stationary phases. As a result, HPLC acquires a high degree of versatility not found in other chromatographic systems and it has the ability to easily separate a wide variety of chemical mixtures.


The type of HPLC that is used for experiment is liquid-liquid partition of chromatograhy. In liquid-liquid partition chromatography an inert support is coated with a polymeric layer or with a liquid that is insoluble in the mobile phase. This seperation is based on the relative solubility’s of the solutes in the mobile and stationary phase.
In HPLC, there are two operational modes isocratic mode and gradient elution mode. In isocratic mode, mobile phase composition always same when the measurement of progress. On the contrary, in the gradient mode the mobile phase composition was varied during the measurement of progress. In various experiments, using a gradient mode, the result that the separation took place more perfect than using isocratic mode.
There are two types of partition chromatography namely normal phase and reverse phase. Normal phase’s chromatography make us of highlypolar stationary phases such as hexane for the mobile phase. Here the least polar component is eluted where an increase in the polarity of mobile phase will decrease the retention times. Reverse-phase chromatography is used to seperate highly polar analytes, which give problems of long retention times and peak tailingwith conventional absorption chromatography. In this case a non polar stationary phase such as a hydrocarbonis conjunction with a relatively polar mobile phase.
b. Validation of The Method
Linearity is the method's ability to obtain results which are either directly, or after mathematical transformation proportional to the concentration of the analyte within a given range. Linearity is determined by calculating the regression line using a mathematical treatment of the results (ie least mean squares) vs analyte concentration.
The precision of an analytical method is the degree of agreement among individual test results obtained when the method is applied to multiple sampling of a homogenous sample . Precision is a measure of the reproducibility of the whole analytical method (including sampling, sample preparation and analysis) under normal operating circumstances. Precision is determined by using the method to assay a sample for a sufficient number of times to obtain statistically valid results (ie between 6 - 1 0). The precision is then expressed as the relative standard deviation.

Accuracy is a measure of the closeness of test results obtained by a method to the true value. Accuracy indicates the deviation between the mean value found and the true value. lt is determined by applying the method to samples to which known amounts of analyte have been added. These should be analysed against standard and blank solutions to ensure that no interference exists. The accuracy is then calculated from the test results as a percentage of the analyte recovered by the assay.
Robustness measures the capacity of an analytical method to remain unaffected by small but deliberate variations in method parameters. It also provides some indication of the reliability of an analytical method during normal usage. Parameters that should be investigated are percent organic content in the mobile phase or gradient ramp; pH of the mobile phase; buffer concentration; temperature; and injection volume. These parameters may be evaluated one factor at a time or simultaneously as part of a factorial experiment.
c. Neutraceutical Products
Nutraceutical is a food or food product that provides health and medical benefits, including the prevention and treatment of disease. Such products may range from isolated nutrients, dietary supplements and specific diets to genetically engineered foods, herbal products, and processed foods such as cereals, soups, and beverages. Dietary suplements are defined as any product (other than tobacco) that is intended to supplement the diet and contains one or more of the following: a vitamin, mineral, herb or other botanical; an amino acid or metabolite; an extract; or any combination of the previously mentioned items.
d. Riboflavin, Pyridoxine, Cyanocobalamin and Folic Acid
Chemical structure of vitamin B2 is as shown in (a). in addition to coenzyme FAD, riboflavin is also a shaper mononucleotide flavin (FMN), which has the formula shown below (b)


Vitamin B2
Vitamin B2 deficiency symptonology includes keilosis. Rich sources of vitamin B2 are milk, meat, egg, and fish.
Vitamin B6 is actually a mixture of pyridoxine, pyridoxal, and pyridoxamine; name “pyridoxine” is generally accepted to this mix because of all these compounds are to each other change. This vitamin acts as a coenzyme for the decarboxylation of amino acids, plays a role in reactions that occur in the nervous system, and also act as coenzymes for the reaction of certain transminase.

Vitamin B12 also called cobalamin, is a water soluble vitamin with a key role in the normal functioning of the brain and nervous system, and for the formation of blood. It is one of the eight B vitamins. It is normally involved in the metabolism of every cell of the human body, especially affecting DNA synthesis and regulation, but also fatty acid synthesis and energy production. As the largest and most structurally complicated vitamin, it can be produced industrially only through bacterial fermentation-synthesis.

Vitamin B12
Folic acid (also known as vitamin B9 or folacin) and folate (the naturally occurring form), as well as pteroyl-L-glutamic acid and pteroyl-L-glutamate, are forms of the water-soluble vitamin B9. Folic acid is itself not biologically active, but its biological importance is due to tetrahydrofolate and other derivatives after its conversion to dihydrofolic acid in the liver.

Vitamin B9
2. Experiment
a. Materials and methods
Potassium dihydrogen phosphate (BDH, Anala R), formic acid (BDH, Anala R) and methanol (BDH, Anala R) were used. Standard solutions of riboflavin (B2), pyridoxine (B6), cyanocobalamin (B12) and folic acid were freshly prepared. Acetic acid (BDH, Anal R), HCl (reagent grade and water (deionized) was used.
b. HPLC Method
The high performance liquid chromatographic system used was equipped with a solvent delivery 200 HPLC pump with online degasser, UV/VIS detector chromatography interface, and a data processing unit compaq. HPLC column discovery C18, 25cm x 4.6mm, 5μm was used for the separation of vitamins. A gradient of methanol and buffer (30:70, in eight minutes) of 50 mM (0.05M) potassium dihydrogen phosphate having pH 4.2 + 0.1, adjusted with formic acid was used as mobile phase. The flow rate was maintained at 1 ml min-1. Wave length of detection was 254 nm. An injection volume of 20μL was chromatographed, and the whole chromatography was performed at ambient temperature.
c. Preparation of Standard Solution
The standard samples B2, B6, B12 and folic acid 100 mg (each) were accurately weighed and transferred into three 100 mL volumetric flask separately and 100 mg of B2 was transferred into 250 mL volumetric flask. Initially 7 mL of acetic acid and 50 mL of methanol were added to each flask; the contents were dissolved by sonication for 10 min and allowed to cool to ambient temperature. The contents were diluted to volume with water and thoroughly mixed. These solutions were used as reference working standard solution (Fig. 1). Prior to injecting into the liquid chromatograph, the solution was filtered through 0.45 μm membrane filter. The
samples were quite stable at room temperature. The stock solutions of standards were kept in a refrigerator for further use and remain unchanged for a period of a month
d. Preparation of Sample Solution
15.07 g of neutraceutical enriched with vitamins was accurately weighed and transferred into a 250 mL round bottom flask. Initially about 10 mL of 0.1 N HCl and 80 mL water was added and then reflux on boiling water bath for 15 min. After completion of refluxing period the flask was cooled and volume made up to 100 mL in a volumetric flask. The content was centrifuged (1400 rpm) to remove suspended material. The supernatant solution was first filtered through a Whatman No. 1 filter paper and the resulting filtrate was again filtered through 0.45 μm membrane filter before injection into LC system (Fig. 2). The stock solutions of sample were kept in a refrigerator for further use and remain unchanged for a period of a month.
C. Results and Discussions
Standard solutions containing B2, B6, B12 and folic acid equal to 20, 50 for linearity, 80, 100, 120, 150 and 180% were prepared and examined by the assay procedure. The peak area responses measured for B2, B6, B12 and folic acid were plotted versus concentration and a linear response was obtained over the range of concentrated studied for all four ingredients. The slope of calibration curve and proximity of all points to the calibration curve demonstrates that the method has adequate sensitivity to the concentrated of vitamins B2, B6, B12 and folic acid.
The accuracy of the assay procedure was determined by carrying out recovery experiments by spiking the standard. Amounts of B2, B6, B12 and folic acid equivalent to 20, 50, 80, 100, 120 and 150% of the theoretical assay concentration were added to the formula amount of neutraceutical preparation and the mixtures were subjected to the assay procedure. The results so obtained are summarized in Table 1. The recovery experiment shows that the method is sufficiently accurate and there is no significant interaction between the active components and excepients.
The precision of assay method was determined under repeatability condition by an experiment in which six preparations were made from the same batch of formulation and were analyzed by one operator on a single occasion. The results are presented in Table 2. The intermediate precision was assessed by another experiment in which two analysts on two different instruments with six independent determinations assayed the same batch of formulation. The results are statistically valid as shown in Table 3.
The robustness of the assay method was assessed with respect to alternations in flow rate, column (same column but of different batch) and change in wave length of UV of the standard and sample, as stability of working standard and test solutions stored in amber glass at ambient temperature. The results show that the new HPLC method is robust to small changes in flow rate, change in column, and the solutions exhibited a good degree of stability. The LOD for B2, B6, B12 and folic acid were found to 0.57, 3, 8 and 10 μg g-1,
respectively.
Neutraceutical preparation omitting B2, B6, B12 and folic acid was examined by the assay procedure. No peak due to excipients in the formulation was observed at the typical retention times for B2, B6, B12 and folic acid. Therefore, it is concluded that the assay method is specific for both active ingredient in the presence of excipients of formulated product. The suitability of the system was defined by determining the value of column efficiency, tailing factor and resolution factor using the method in VSP. Column efficiency was greater than 1000 per column, tailing factor was not more than 2 and resolution factor is greater than 3 for B2, B6, B12 and folic acid (Table 4).



The dependence of retention time on flow rate has been observed for both standard and sample and it was found that a increase in flow rate decrease the retention time of B2, B6, B12 and folic acid in a regular manner. The HPLC method has been found to be time saving with a high degree of precision and accuracy.



D. Conclusions
Based on experiment we can concluded that HPLC is a simple, rapid, economic and accurate quantitative simultaneous estimation of water soluble vitamins, riboflavin, pyridoxine, cyanocobalamin and folic acid in neutraceutical products. A validation of this method was carried out and showed that specificity, robustness and precision are guaranteed.












BIBLIOGRAPHY

Anonim. 2010. Cyaconobalamin. [Online]. Avalilable : http://en.wikipedia.org/wiki/ Cyaconobalamin. [October 5th 2010].
Anonim. 2010. Folic Acid. [Online]. Avalilable : http://en.wikipedia.org/wiki/Folic acid. [October 5th 2010].
Anonim. 2010. Neutraceutical. [Online]. Available: http://en.wikipedia.org/wiki/ Nutraceutical. [October 5th 2010].
Anonim. 2010. Pyridoxine. [Online]. Avalilable : http://en.wikipedia.org/wiki/ Pyridoxine. [October 5th 2010].
Anonim. 2010. Riboflavin. [Online]. Avalilable : http://en.wikipedia.org/wiki/ Riboflavin. [October 5th 2010].
HAM, Mulyono. 2005. Kamus Kimia. Jakarta : Bumi Aksara.
Hendayana, Sumar. 2006. Kimia Pemisahan. Bandung : PT Remaja Rosda Karya.

Mulry, Mary. 2000. Functional Foods and Neutraceutical. [Online]. Available: http://www.chiro.org/nutrition/FULL/Functional_Foods.shtml [October 10th 2010].
P. Elmer, Hearn. 2010. A guide validation in HPLC. [Online]. Available : http://152.106.6.200:8080/dspace/bitstream/10210/379/11/11Ch3HPLC.pdf
Perveen, Shahnaz. Et al. 2009. Quantitative Simultaneous Estimation of Water Soluble Vitamins, Riboflavin, Pyridoxine, Cyanocobalamin and Folic Acid in Neutraceutical Products by HPLC. The Open Analytical Chemistry Journal, 2009, 3, 1-5 [Online]. Available : www.bentham-open.org. [September 21st 2010].
Poedjiadi, Anna. 2005. Dasar-Dasar Biokimia. Jakarta : Penerbit Universitas Indonesia (UI-Press).
Shabir, Ghulam A. 2004. HPLC Method Development and Validation for Pharmaceutical Analysis. [Online]. Available : http://pharmtech.findpharma.com/pharmtech/article/articleDetail.jsp?id=89002.